Setapak Langkah – 10 Mei 2026 | Ekonom Universitas Indonesia (UI), Ninasapti Triaswati, menekankan bahwa stabilitas produksi pangan nasional menjadi faktor utama dalam mengendalikan laju inflasi tahun 2026. Menurutnya, ketidakpastian pasokan pangan dapat memicu kenaikan harga bahan pokok, yang pada gilirannya menekan daya beli masyarakat.
Ia mengidentifikasi tiga tantangan utama yang mengancam konsistensi produksi: perubahan iklim, keterbatasan lahan pertanian, dan kurangnya investasi teknologi modern. Untuk mengatasi hal tersebut, Ninasapti mengusulkan langkah-langkah berikut:
- Peningkatan investasi pada teknologi pertanian presisi dan varietas tahan iklim.
- Peningkatan akses pembiayaan bagi petani kecil melalui skema kredit bersubsidi.
- Pengembangan infrastruktur penyimpanan dan distribusi yang efisien untuk mengurangi kehilangan hasil panen.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi pangan pada kuartal pertama 2025 berada di angka 5,2 %, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 3,8 % pada tahun 2023. Jika produksi pangan tidak dapat dipertahankan, proyeksi inflasi 2026 dapat melampaui target Bank Indonesia sebesar 2,5 %.
Selain kebijakan fiskal, Ninasapti menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, termasuk Kementerian Pertanian, Kementerian Keuangan, dan lembaga riset. Sinergi tersebut diharapkan dapat mempercepat adopsi praktik pertanian berkelanjutan serta meningkatkan produktivitas per hektar.
Secara keseluruhan, konsistensi produksi pangan tidak hanya berperan dalam menahan inflasi, melainkan juga dalam menjamin ketahanan pangan jangka panjang bagi Indonesia.