Setapak Langkah – 30 Juli 2026 | Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) melaksanakan program penanaman mangrove sebanyak 17.000 batang di beberapa wilayah pesisir. Penanaman ini menggunakan pendekatan Hybrid Engineering, yaitu kombinasi teknik rekayasa tradisional dengan teknologi modern untuk mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan keberhasilan bibit mangrove.
Program ini difokuskan pada area-area yang mengalami degradasi pantai akibat abrasi, peningkatan suhu, dan aktivitas manusia. Lokasi utama meliputi muara Kusan, kawasan Teluk Tanjungpura, serta bagian timur sungai Barito. Dengan menanam mangrove, diharapkan dapat memperkuat garis pantai, menurunkan risiko banjir, serta menyediakan habitat bagi beragam spesies laut.
Berikut adalah langkah‑langkah utama dalam metode Hybrid Engineering yang diterapkan DKP Kalsel:
- Seleksi Bibit: Bibit dipilih dari varietas yang tahan terhadap salinitas tinggi dan memiliki pertumbuhan cepat.
- Pengolahan Tanah: Tanah pesisir diperkaya dengan campuran pasir, lumpur, dan bahan organik untuk menciptakan media tanam optimal.
- Pemasangan Struktur Penopang: Tiang‑tiang bambu atau beton mini dipasang sebagai penopang awal agar bibit tidak mudah terombang‑ambing oleh gelombang.
- Monitoring Digital: Sensor kelembaban dan suhu tanah dipasang untuk memantau kondisi secara real‑time, sehingga perawatan dapat disesuaikan secara cepat.
- Perawatan Lanjutan: Penyiraman, pemupukan organik, dan pembersihan area secara berkala dilakukan selama enam bulan pertama.
Data perkiraan penanaman per lokasi dapat dilihat pada tabel berikut:
| Lokasi | Jumlah Mangrove (batang) |
|---|---|
| Muara Kusan | 5.000 |
| Kawasan Teluk Tanjungpura | 6.000 |
| Sungai Barito (bagian timur) | 6.000 |
Direktur DKP Kalimantan Selatan menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga pada edukasi masyarakat setempat mengenai pentingnya mangrove. Pelatihan bagi nelayan dan petani pesisir diadakan untuk mengajarkan teknik perawatan dan manfaat ekonomi jangka panjang, seperti peningkatan hasil perikanan dan potensi ekowisata.
Dengan dukungan dana provinsi dan kerjasama lembaga riset, program ini diharapkan dapat selesai dalam satu tahun dan menjadi model bagi provinsi lain dalam upaya restorasi ekosistem pesisir Indonesia.