Setapak Langkah – 02 April 2026 | Penelitian terbaru mengungkap jaringan komentator pro‑pemerintah China, yang dikenal dengan sebutan “50 Cent Party” atau “Wumao Dang”, beroperasi secara masif di berbagai platform daring internasional. Kelompok ini diyakini memiliki ribuan akun yang secara terkoordinasi menyebarkan narasi yang menguntungkan pemerintah China.
Studi tersebut menelusuri jutaan postingan, komentar, dan akun palsu yang menargetkan isu‑isu sensitif seperti hak asasi manusia, kebijakan luar negeri, dan geopolitik. Tujuan utama mereka adalah memperkuat citra Partai Komunis China dan menetralkan kritik yang muncul di ruang digital.
Metodologi yang dipakai meliputi teknik data mining, analisis jaringan sosial, serta pembandingan pola bahasa dan waktu aktivitas. Peneliti mengidentifikasi pola posting yang berulang, sinkronisasi waktu, serta penggunaan istilah‑istilah khusus yang menandakan koordinasi terpusat.
Temuan kunci meliputi:
- Lebih dari 150.000 akun teridentifikasi sebagai bagian dari “50 Cent Party” yang aktif di platform seperti Twitter, Facebook, dan YouTube.
- Mayoritas konten diproduksi dalam bahasa Inggris, Mandarin, serta bahasa regional lain untuk menjangkau audiens global.
- Strategi penyebaran mencakup teknik amplifikasi, seperti retweet massal, komentar berantai, dan pembuatan meme yang mudah dibagikan.
- Aktivitas puncak terjadi pada saat terjadi krisis atau perdebatan internasional yang melibatkan China, misalnya isu Hong Kong, Taiwan, dan hak‑cipta digital.
- Penggunaan alat otomatisasi dan bot meningkatkan kecepatan serta volume penyebaran pesan.
Para ahli keamanan siber menekankan bahwa operasi semacam ini menimbulkan tantangan bagi platform media sosial dalam mendeteksi dan menonaktifkan akun-akun koordinatif tanpa melanggar kebebasan berbicara. Selain itu, fenomena ini menyoroti perlunya regulasi yang lebih ketat serta kolaborasi internasional dalam memerangi disinformasi yang bersifat lintas‑negara.
Studi ini memberikan gambaran bahwa propaganda digital tidak lagi bersifat sekadar kampanye satu negara, melainkan jaringan terorganisir yang memanfaatkan teknologi modern untuk memengaruhi opini publik di seluruh dunia.