Setapak Langkah – 12 Juni 2026 | Industri dirgantara menjadi salah satu indikator kemandirian pertahanan sebuah negara. Hingga kini hanya segelintir negara yang berhasil merancang, memproduksi, dan memasok jet tempur secara mandiri. Berikut ini daftar 15 negara yang telah menguasai teknologi tersebut, beserta gambaran singkat tentang kemampuan masing‑masing.
| Negara | Program Jet Tempur Utama | Tahun Produksi Pertama |
|---|---|---|
| Amerika Serikat | F-22 Raptor, F-35 Lightning II | 1997 |
| Rusia | Su-57, MiG-35 | 2002 |
| China | J-20, J-31 | 2011 |
| Prancis | Rafale | 2001 |
| Britania Raya | Eurofighter Typhoon (kontribusi utama) | 2003 |
| Jerman | Eurofighter Typhoon (kontribusi utama) | 2003 |
| Swedia | JAS 39 Gripen | 1996 |
| Italia | Eurofighter Typhoon (kontribusi utama) | 2003 |
| Israel | IAI Kfir, Lavi (prototipe) | 1975 |
| Brasil | EMBRAER KC-390 (transport) & T-45 Goshawk (latih), sedang mengembangkan jet tempur ringan | 2020 |
| Korea Selatan | KAI FA-50, KF-21 Boramae | 2015 |
| Jepang | Mitsubishi F-2, pengembangan jet tempur generasi berikutnya | 1995 |
| Turki | TAI TFX (dalam tahap prototipe) | 2023 (rencana produksi) |
| Australia | CA-27 (varian F/A‑18) – produksi lokal dengan lisensi | 1985 |
| Kanada | CF‑18 Hornet (lisensi) & pengembangan masa depan | 1986 |
Meski demikian, Indonesia belum termasuk dalam daftar tersebut. Sejak era B.J. Habibie, fondasi industri dirgantara Indonesia telah dibangun lewat program pesawat sipil seperti N-250 dan CN‑235. Pemerintah berhasil menumbuhkan kemampuan perancangan struktural, sistem avionik, dan produksi komponen, namun teknologi motor supersonik dan sistem persenjataan tempur masih bergantung pada pihak luar.
Berbagai upaya sedang digalakkan untuk mempercepat kemandirian. Program KAI (Kapal Terbang Riset) menargetkan pembuatan pesawat tempur ringan berbasis teknologi yang dapat diadaptasi ke kebutuhan TNI‑AU. Selain itu, kerja sama dengan produsen internasional di bidang material komposit, mesin turbofan, dan sistem stealth diharapkan dapat menutup kesenjangan teknis.
Hambatan utama meliputi tingginya biaya riset & pengembangan, kebutuhan akan tenaga ahli yang terlatih, serta persaingan pasar global yang didominasi oleh raksasa militer. Jika anggaran pertahanan terus meningkat dan kebijakan industri nasional tetap mendukung, prospek Indonesia menghasilkan jet tempur pertama secara mandiri dapat terwujud dalam satu hingga dua dekade ke depan.