Setapak Langkah – 24 Agustus 2026 | Burung endemik wilayah kepulauan Sunda, yang dikenal dengan sebutan “Paruh Gincu” atau “Ekek Keling Sunda“, kini berada pada posisi terancam punah. Warna hijau yang mendominasi tubuhnya memberikan kesan menyatu dengan dedaunan hutan, sementara paruh dan kakinya berwarna merah terang menambah daya tarik visual spesies ini. Garis hitam tipis di sekitar mata menambah karakteristik unik yang memudahkan identifikasi di lapangan.
Paruh Gincu termasuk dalam famili bulbul (Pycnonotidae) dan tersebar terbatas di hutan hujan tropis dataran rendah serta hutan sekunder yang masih memiliki vegetasi lebat. Habitat ini menyediakan sarana makan berupa buah-buahan kecil, serangga, dan nektar, serta tempat bersarang yang aman dari predator.
Berikut adalah ciri-ciri utama serta status konservasi Paruh Gincu:
| Ciri-ciri | Keterangan |
|---|---|
| Warna tubuh | Hijau dengan aksen merah pada paruh dan kaki |
| Garis mata | Hitam tipis di sekitar mata |
| Habitat | Hutan hujan tropis dataran rendah, hutan sekunder |
| Diet | Buah-buahan kecil, serangga, nektar |
| Status IUCN | Terancam Punah (EN) |
Berbagai faktor memicu penurunan populasi Paruh Gincu, di antaranya:
- Penggundulan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan pertanian.
- Penyusutan lahan karena urbanisasi dan pembangunan infrastruktur.
- Perburuan ilegal untuk perdagangan satwa liar.
- Perubahan iklim yang mengganggu ketersediaan makanan dan tempat bersarang.
Pemerintah Indonesia bersama lembaga konservasi non‑pemerintah telah meluncurkan program pemulihan habitat, penetapan kawasan konservasi, serta edukasi masyarakat lokal tentang pentingnya melindungi satwa endemik. Upaya tersebut mencakup penanaman kembali pohon-pohon buah yang menjadi sumber makanan utama, serta monitoring populasi secara berkala menggunakan teknik penanda pasang.
Keberlanjutan program konservasi sangat bergantung pada partisipasi aktif komunitas setempat. Dengan meningkatkan kesadaran dan menawarkan alternatif penghidupan yang ramah lingkungan, diharapkan tekanan terhadap habitat alami Paruh Gincu dapat berkurang.
Jika langkah-langkah perlindungan terus dijalankan secara konsisten, ada harapan bahwa populasi Paruh Gincu dapat pulih dalam beberapa dekade ke depan, menjadikan kembali suara merdunya sebagai bagian tak terpisahkan dari keanekaragaman hayati Indonesia.