Setapak Langkah – 19 Agustus 2026 | Jawa Timur, 18 Agustus 2026 – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menegaskan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berlokasi di sekitar daerah terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) harus berada dalam kondisi siaga penuh. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan bencana yang melibatkan Kementerian Kesehatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta dinas terkait di provinsi NTT.
Gempa bumi berkekuatan 6,2 Skala Richter yang mengguncang NTT pada tanggal 12 Agustus 2026 menimbulkan kerusakan pada infrastruktur kesehatan, termasuk beberapa posyandu dan fasilitas pelayanan gizi. Meskipun dampaknya belum mencapai tingkat kritis, potensi gangguan pasokan makanan bergizi dan layanan pemantauan status gizi pada kelompok rentan, seperti anak-anak dan ibu hamil, menjadi perhatian utama.
Sudaryono menambahkan bahwa SPPG memiliki tiga peran utama dalam situasi darurat:
- Distribusi pangan tambahan yang mengandung mikronutrien penting untuk mencegah kekurangan gizi.
- Monitoring status gizi secara cepat melalui tim lapangan yang dilengkapi dengan peralatan portabel.
- Koordinasi dengan tim medis untuk memberikan edukasi gizi serta penanganan gizi klinis bagi korban yang membutuhkan.
Untuk memastikan kesiapan, BGN telah menyiapkan protokol operasional yang meliputi:
- Pengecekan stok pangan fortifikasi (seperti beras, susu, dan makanan bayi) setiap hari kerja.
- Pelatihan ulang petugas SPPG mengenai prosedur evakuasi dan penilaian gizi darurat.
- Penguatan jaringan komunikasi dengan BNPB dan pemerintah daerah melalui platform digital khusus bencana.
Selain itu, BGN berkomitmen menyalurkan bantuan gizi tambahan melalui mekanisme dana bantuan sosial (BANSOS) yang telah dialokasikan khusus untuk wilayah bencana. Penggunaan dana tersebut harus dilaporkan secara transparan dan akuntabel, dengan audit berkala oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Dalam konteks jangka panjang, Sudaryono menekankan pentingnya pembangunan kembali fasilitas gizi yang tahan gempa. “Kita tidak hanya menanggapi kebutuhan darurat, tetapi juga harus memastikan bahwa infrastruktur gizi di NTT dibangun ulang dengan standar tahan bencana,” ujar beliau.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan SPPG di NTT dapat berperan optimal dalam mencegah krisis gizi yang dapat memperburuk kondisi pasca-bencana, serta menjaga kesehatan masyarakat yang paling rentan.