Setapak Langkah – 12 Agustus 2026 | Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mengonfirmasi bahwa masih terdapat dua titik api yang aktif di lereng Gunung Bromo, meskipun operasi pemadaman telah berjalan intensif sejak awal pekan ini.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan konservasi Bromo menimbulkan tantangan berat bagi tim pemadam. Medan yang bergelombang, curam, serta kerap terjal menghambat akses kendaraan pemadam dan peralatan berat.
- Medan berat: Lereng yang berpasir dan berbatu menyulitkan penempatan alat pemadam serta menambah risiko kecelakaan bagi petugas.
- Keterbatasan sumber air: Sumber air alami di sekitar zona kebakaran sangat terbatas, sehingga pengisian tangki air harus dilakukan secara bergantian dari pos-pos terdekat.
- Cuaca tidak bersahabat: Angin kencang yang berhembus dari arah barat meningkatkan penyebaran api dan mengurangi efektivitas penyemprotan air.
- Koordinasi lintas lembaga: Penyaluran tenaga, peralatan, dan logistik melibatkan banyak instansi, yang membutuhkan sinkronisasi waktu nyata.
- Ketersediaan tenaga kerja: Tim pemadam yang terdiri dari anggota TNI, Polri, relawan, dan satpam taman harus bergiliran bekerja selama 12‑15 jam per hari.
Untuk mengatasi kendala tersebut, BNPB telah menempatkan helikopter pemadam air, memanfaatkan drone untuk pemantauan titik panas, serta menambah jumlah tim pemadam dari provinsi sekitarnya. Selain itu, warga setempat diimbau untuk tidak menyalakan api unggun dan melaporkan percikan asap sekecil apapun.
Dengan upaya gabungan antara aparat, relawan, dan masyarakat, diharapkan kedua titik api dapat dipadamkan dalam beberapa hari ke depan, sekaligus mencegah terjadinya dampak ekologis yang lebih luas pada ekosistem Bromo.