Setapak Langkah – 11 Agustus 2026 | Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa upaya transformasi sistem pendidikan di Indonesia harus berlandaskan pada perubahan paradigma pembelajaran. Menurutnya, fokus utama bukan lagi sekadar menambah materi, melainkan menciptakan lingkungan belajar yang lebih aktif, kolaboratif, dan berorientasi pada kompetensi.
Beberapa langkah strategis yang diuraikan antara lain:
- Mengintegrasikan pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan pemecahan masalah untuk menumbuhkan kreativitas siswa.
- Memperkuat peran guru sebagai fasilitator yang mengarahkan proses belajar mengajar, bukan sekadar pemberi materi.
- Mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital dalam kelas, termasuk platform daring yang mendukung personalisasi pembelajaran.
- Menyesuaikan kurikulum nasional dengan standar kompetensi yang menekankan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan komunikatif.
- Menjalin kemitraan dengan dunia usaha, industri, dan lembaga penelitian untuk menyediakan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Abdul Mu’ti juga menyoroti pentingnya evaluasi berkelanjutan. Ia mengusulkan penggunaan asesmen formatif yang memberi umpan balik cepat kepada siswa dan guru, sehingga proses perbaikan dapat dilakukan secara real‑time. Selain itu, data hasil belajar akan diolah secara terpusat untuk memantau kemajuan implementasi di seluruh wilayah.
Dalam rangka menyiapkan infrastruktur pendukung, Kementerian Pendidikan berkomitmen meningkatkan konektivitas internet di sekolah, menyediakan perangkat keras yang memadai, serta melatih tenaga pendidik melalui program pengembangan profesional berkelanjutan.
Transformasi ini diharapkan dapat menurunkan angka putus sekolah, meningkatkan kualitas lulusan, dan mempersiapkan generasi muda Indonesia menjadi tenaga kerja yang kompetitif di era globalisasi. Menteri menutup dengan menegaskan bahwa perubahan ini memerlukan sinergi antara pemerintah, guru, orang tua, dan sektor swasta.