Setapak Langkah – 03 Agustus 2026 | Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini merilis hasil studi yang menilai potensi reaktivasi jalur kereta api yang telah lama tidak beroperasi. Penelitian tersebut menekankan bahwa menghidupkan kembali jaringan rel dapat menjadi katalis utama bagi pertumbuhan ekonomi regional dan peningkatan mobilitas masyarakat.
Studi mengidentifikasi tiga faktor kunci yang mendorong manfaat signifikan:
- Pengurangan waktu tempuh: Jalur alternatif mengurangi jarak tempuh dibandingkan rute jalan raya.
- Peningkatan akses pasar: Petani, produsen UMKM, dan pelaku industri dapat mengirimkan barang dengan biaya lebih rendah.
- Stimulus investasi: Infrastruktur yang diperbarui menarik investasi swasta di sektor logistik, pariwisata, dan manufaktur.
Berikut rangkuman perkiraan dampak ekonomi yang disajikan dalam laporan BRIN:
| Indikator | Proyeksi 2025 | Satuan |
|---|---|---|
| Peningkatan volume penumpang | 12,5 | juta orang |
| Penurunan biaya logistik | 15 | persen |
| Penciptaan lapangan kerja | 35 | ribu orang |
Analisis juga menyoroti tantangan yang harus diatasi, antara lain pendanaan awal, koordinasi antar‑pemda, serta modernisasi peralatan rel. BRIN merekomendasikan pendekatan bertahap dengan prioritas pada koridor yang memiliki potensi ekonomi tertinggi.
Dengan mengintegrasikan data survei lapangan, model simulasi transportasi, dan studi kasus internasional, penelitian ini memberikan landasan ilmiah bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan transportasi yang lebih berkelanjutan. Jika rekomendasi diimplementasikan, diharapkan daerah‑daerah yang selama ini terisolasi dapat terhubung kembali ke jaringan ekonomi nasional, mempercepat pertumbuhan inklusif dan mengurangi kesenjangan wilayah.