Setapak Langkah – 30 Juli 2026 | Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit refluks asam lambung merupakan kondisi di mana isi lambung, yang bersifat asam, naik kembali ke kerongkongan. Saat asam tersebut bersentuhan dengan jaringan kerongkongan yang tidak tahan asam, timbul sensasi terbakar atau rasa panas di daerah dada.
Berikut ini beberapa mekanisme yang menjelaskan mengapa rasa panas muncul saat GERD kambuh:
- Kontak langsung asam dengan esofagus: Dinding kerongkongan tidak memiliki lapisan pelindung seperti lambung, sehingga asam dapat menyebabkan iritasi dan rasa terbakar.
- Stimulasi saraf vagus: Refluks asam dapat merangsang saraf vagus yang menghubungkan saluran pencernaan dengan otak, menghasilkan sensasi nyeri yang dirasakan di dada.
- Pengaruh tekanan intraabdominal: Kenaikan tekanan pada perut (misalnya setelah makan berlebihan atau berbaring) memaksa asam naik ke atas, memperparah rasa panas.
Gejala lain yang sering menyertai rasa panas di dada meliputi:
- Mual atau rasa ingin muntah.
- Rasa asam atau pahit di mulut, terutama setelah makan.
- Batuk kering atau sakit tenggorokan kronis.
Penanganan yang disarankan dokter antara lain:
- Modifikasi pola makan: Hindari makanan berlemak, pedas, kafein, cokelat, dan citrus yang dapat memicu refluks.
- Perubahan kebiasaan makan: Makan dalam porsi kecil, tidak langsung berbaring setelah makan, dan menjaga berat badan ideal.
- Penggunaan obat: Antasida, inhibitor pompa proton (PPI), atau H2 blocker dapat mengurangi produksi asam lambung.
- Evaluasi medis lanjutan: Jika gejala tidak membaik, dokter mungkin menyarankan endoskopi untuk menilai tingkat kerusakan pada kerongkongan.
Dengan memahami penyebab rasa panas di dada saat GERD kambuh, penderita dapat mengambil langkah preventif yang tepat dan mengurangi frekuensi gejala.