Setapak Langkah – 05 Juli 2026 | Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang, Rudi Cahyono, mengungkapkan bahwa pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di wilayah tersebut belum mencapai target yang ditetapkan. Menurutnya, sejumlah faktor menghambat proses pengumpulan data, terutama keengganan warga untuk mengungkapkan pendapatan pribadi.
Faktor-faktor penyebab keterlambatan
- Kekhawatiran pajak: Banyak responden menolak memberikan informasi tentang penghasilan karena takut data tersebut akan dijadikan dasar untuk penagihan pajak tambahan.
- Keterbatasan sosialisasi: Penjelasan tentang tujuan dan manfaat sensus masih belum merata, sehingga menimbulkan keraguan di kalangan masyarakat.
- Kurangnya kepercayaan: Beberapa warga merasa data pribadi mereka tidak akan dijaga kerahasiaannya oleh pemerintah.
Dampak keterlambatan
Keterlambatan pencapaian target sensus dapat berakibat pada kurang akuratnya basis data ekonomi daerah. Data yang tidak lengkap menyulitkan pemerintah dalam merumuskan kebijakan fiskal, alokasi anggaran, serta program pembangunan yang berbasis pada realitas ekonomi warga.
Upaya BPS mengatasi hambatan
Rudi Cahyono menyatakan BPS akan memperkuat strategi sosialisasi dengan melibatkan tokoh masyarakat, lembaga keagamaan, serta media lokal. Selain itu, BPS berjanji akan menegaskan bahwa data yang dikumpulkan hanya akan digunakan untuk keperluan statistik dan tidak akan otomatis menjadi dasar pemungutan pajak.
Untuk meningkatkan partisipasi, BPS juga mempertimbangkan pemberian insentif non-finansial, seperti sertifikat partisipasi atau penghargaan kepada desa/kelurahan dengan tingkat respons tertinggi.
Jika tantangan ini dapat diatasi, sensus diharapkan selesai tepat waktu dan menghasilkan data ekonomi yang dapat menjadi landasan kebijakan pembangunan berkelanjutan di Semarang.