Setapak Langkah – 03 Juli 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan bahwa fenomena El Nino diproyeksikan akan mencapai intensitas kuat dan berpotensi memicu kemarau panjang di seluruh wilayah Indonesia hingga akhir Oktober 2026.
Berikut beberapa dampak yang diperkirakan akan terjadi:
- Penurunan produksi pertanian, terutama padi, jagung, dan kedelai, akibat berkurangnya curah hujan pada musim tanam utama.
- Kekurangan pasokan air bersih di daerah perkotaan dan pedesaan, meningkatkan risiko krisis air.
- Peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan gambut, yang dapat memperburuk kualitas udara.
- Fluktuasi harga komoditas pangan di pasar domestik, berpotensi menimbulkan tekanan inflasi.
BMKG menyarankan pemerintah daerah, lembaga pertanian, serta masyarakat umum untuk mengambil langkah mitigasi berikut:
- Melakukan penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan varietas tanaman yang tahan kekeringan.
- Meningkatkan penyimpanan dan distribusi air melalui pembangunan sumur resapan dan waduk kecil.
- Memperkuat sistem peringatan dini kebakaran hutan serta melakukan patroli intensif.
- Mengoptimalkan penggunaan teknologi irigasi tetes atau sprinkler untuk mengurangi kehilangan air.
- Menyiapkan bantuan sosial bagi petani dan rumah tangga yang terdampak, termasuk subsidi pupuk dan bibit.
Sejarah mencatat bahwa El Nino kuat pada tahun 1997‑1998 dan 2015‑2016 mengakibatkan kerugian ekonomi nasional mencapai miliaran dolar, terutama di sektor pertanian dan perikanan. Dengan memanfaatkan data historis serta model prediksi yang lebih akurat, BMKG berharap dapat mengurangi dampak negatif pada siklus pertanian dan pasokan air di masa mendatang.
Pengawasan dan koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama untuk menghadapi tantangan cuaca ekstrem ini. Pemerintah, lembaga penelitian, dan masyarakat diharapkan berkolaborasi secara proaktif demi menjaga ketahanan pangan dan keamanan air nasional hingga akhir 2026.