Setapak Langkah – 02 Juli 2026 | Wali Kota Semarang, Agustina, menegaskan pentingnya melestarikan warisan budaya maritim kota sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan potensi ekonomi daerah. Dalam rangkaian kegiatan Rakernas XVIII APEKSI 2026 yang dilaksanakan di Medan, Pemerintah Kota Semarang menginisiasi Seminar Nasional Menyelamatkan Heritage Kota Maritim: Sejarah dan Pengembangannya yang diharapkan menjadi pijakan awal gerakan nasional untuk melindungi dan memajukan aset sejarah laut.
Seminar ini mempertemukan akademisi, praktisi, pelaku industri pariwisata, serta perwakilan pemerintah daerah dari berbagai kota pesisir di Indonesia. Tujuannya adalah menyusun strategi terpadu yang dapat mengintegrasikan pelestarian heritage dengan pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan.
Beberapa agenda utama yang dibahas meliputi:
- Identifikasi situs‑situs bersejarah maritim yang membutuhkan intervensi konservasi.
- Pemetaan nilai ekonomi dan sosial dari heritage maritim bagi komunitas lokal.
- Pengembangan kurikulum pendidikan berbasis warisan laut untuk generasi muda.
- Model pendanaan publik‑swasta yang mendukung proyek restorasi dan promosi.
- Strategi pemasaran digital untuk memperkenalkan heritage maritim kepada wisatawan domestik dan internasional.
Wali Kota Agustina menekankan bahwa pelestarian heritage tidak hanya sekadar menjaga bangunan atau artefak, melainkan juga melestarikan tradisi, bahasa, dan kearifan lokal yang diwariskan oleh para pelaut dan nelayan sejak berabad‑abad lalu. “Kita harus mengakui bahwa identitas maritim adalah bagian integral dari sejarah bangsa, dan dengan melindunginya, kita sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi generasi mendatang,” ujar Agustina dalam sambutannya.
Selain diskusi panel, seminar juga menyajikan pameran foto dan video dokumentasi pelabuhan bersejarah, kapal tradisional, serta kisah-kisah inspiratif masyarakat pesisir yang berhasil mengoptimalkan warisan mereka menjadi produk kreatif, seperti kerajinan anyaman, kuliner khas laut, dan festival budaya.
Hasil akhir seminar direncanakan akan dituangkan dalam sebuah manifesto yang akan disebarluaskan ke seluruh pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, serta organisasi non‑pemerintah. Manifesto tersebut diharapkan menjadi acuan kebijakan nasional untuk melindungi heritage maritim, sekaligus menjadi dorongan bagi kota‑kota lain untuk menginisiasi program serupa.
Dengan dukungan APEKSI 2026, inisiatif ini diharapkan tidak hanya meningkatkan citra Semarang sebagai kota pelabuhan bersejarah, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional sebagai negara yang peduli pada pelestarian warisan budaya maritim.