Setapak Langkah – 30 Juni 2026 | Gas radon (Rn-222) telah lama menjadi bahan perbincangan dalam komunitas ilmiah Indonesia sebagai potensi indikator pra-gempa. Daryono, peneliti senior di Ikatan Ahli Bumi Indonesia (IABI), baru-baru ini mengupas fakta-fakta penting terkait kemampuan radon dalam mendeteksi pergerakan tektonik di tanah air.
Latar Belakang Penggunaan Radon
Radon merupakan gas radioaktif yang terbentuk dari peluruhan uranium di dalam batuan dan tanah. Karena sifatnya yang mudah mengalir melalui pori‑pori tanah, konsentrasi radon di permukaan dapat berubah bila ada pergeseran lapisan bumi. Perubahan ini menjadi dasar hipotesis bahwa lonjakan radon dapat menjadi sinyal awal terjadinya gempa.
Bagaimana Radon Dapat Menjadi Indikator?
- Proses pelepasan: Saat patahan tektonik mulai menegang, retakan mikroskopik terbuka, memungkinkan radon yang terperangkap di dalam batuan meloloskan diri ke atmosfer.
- Pengukuran konsentrasi: Stasiun pemantau radon mengukur kadar gas dalam satuan becquerel per meter kubik (Bq/m³). Lonjakan signifikan dibandingkan nilai rata‑rata harian dianggap mencurigakan.
- Hubungan temporal: Penelitian di wilayah rawan gempa, seperti Sumatra dan Jawa Barat, menunjukkan pola peningkatan radon beberapa hari hingga minggu sebelum kejadian gempa kuat.
Pendapat Daryono dari IABI
Daryono menegaskan bahwa radon memang memiliki potensi sebagai salah satu komponen dalam sistem peringatan dini gempa, namun bukan satu‑satunya indikator. “Kita perlu menggabungkan data radon dengan parameter lain seperti perubahan kecepatan gelombang seismik, deformasi tanah, dan anomali elektromagnetik,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa data historis masih terbatas dan belum ada standar internasional yang mengikat penggunaan radon dalam prediksi gempa.
Tantangan Utama
- Variabilitas alam: Konsentrasi radon dipengaruhi oleh faktor cuaca, kelembaban, dan aktivitas manusia, sehingga memisahkan sinyal gempa dari noise menjadi sulit.
- Keterbatasan jaringan sensor: Di banyak daerah Indonesia, jaringan pemantau radon masih sangat terbatas, sehingga cakupan data tidak merata.
- Interpretasi data: Tanpa algoritma yang matang, lonjakan radon dapat diinterpretasikan secara berlebihan, menimbulkan kepanikan publik.
Langkah ke Depan
IABI bersama beberapa universitas berencana memperluas jaringan stasiun radon di zona subduksi utama Indonesia. Selain itu, tim riset sedang mengembangkan model statistik berbasis pembelajaran mesin untuk mengintegrasikan data radon dengan parameter seismik lainnya.
Kesimpulannya, radon dapat menjadi salah satu “puzzle piece” dalam upaya memprediksi gempa bumi, tetapi penggunaannya harus bersifat komplementer dan berbasis data yang kuat. Daryono menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin serta edukasi publik agar harapan berlebih tidak mengganggu ketenangan masyarakat.