Setapak Langkah – 27 Juni 2026 | Persaingan antara pesawat tempur siluman Chengdu J-20 Mighty Dragon buatan China dan Lockheed Martin F-35 Lightning II milik Amerika Serikat kini memasuki fase di mana kuantitas produksi menjadi faktor penentu selain keunggulan teknologi. Selama satu dekade terakhir, keunggulan stealth menjadi fokus utama, namun kini pertarungan di medan udara juga dipengaruhi oleh kemampuan masing-masing negara untuk memproduksi dan menyebarkan pesawat secara masif.
Latar Belakang Kedua Platform
J-20 pertama kali terbang pada 2011 dan resmi masuk operasi pada 2017. Pesawat ini menonjolkan desain stealth, mesin ganda, serta kemampuan manuver tinggi yang dirancang khusus untuk menyaingi pesawat generasi kelima Barat. China menargetkan produksi massal J-20 sebagai bagian dari strategi modernisasi angkatan udara.
F-35, yang pertama kali terbang pada 2006, hadir dalam tiga varian (A, B, C) untuk menyesuaikan kebutuhan Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Marinir Amerika serta sekutu‑sekutunya. Hingga kini lebih dari 800 unit telah dikirim ke 15 negara, menjadikannya salah satu program produksi militer terbesar dalam sejarah.
Perbandingan Kuantitas dan Kapasitas Produksi
Berikut rangkuman produksi dan perkiraan angka hingga 2030:
| Aspek | Chengdu J-20 | Lockheed Martin F-35 |
|---|---|---|
| Jumlah unit terbang (2024) | ~120 unit | ~800 unit |
| Target produksi 2030 | 300–350 unit | lebih dari 1.200 unit |
| Negara pengguna | China | Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Australia, Italia, dan lainnya |
| Varian | Satu varian utama | Tiga varian (A, B, C) |
Implikasi Strategis
- Kuantitas vs Stealth: Meskipun J-20 menawarkan kemampuan stealth yang kompetitif, keunggulan numerik F-35 dapat menciptakan tekanan operasional pada sistem pertahanan China, terutama dalam skenario konflik berskala besar.
- Integrasi jaringan: F-35 dilengkapi dengan sensor fusion dan konektivitas data yang telah teruji dalam operasi koalisi, sementara J-20 masih mengembangkan kemampuan serupa.
- Biaya operasional: Produksi massal F-35 memungkinkan penurunan biaya per unit, sedangkan J-20 yang masih dalam tahap peningkatan produksi cenderung memiliki biaya yang lebih tinggi per pesawat.
- Pengaruh geopolitik: Penyebaran F-35 ke sekutu memperluas jaringan pertahanan Barat, sementara J-20 tetap menjadi aset eksklusif China, menambah dimensi persaingan regional.
Dengan tren produksi yang terus meningkat, pertarungan di udara tidak lagi hanya tentang siapa yang memiliki teknologi paling canggih, melainkan siapa yang dapat menempatkan lebih banyak pesawat di langit secara simultan. Kedua negara diperkirakan akan terus mengoptimalkan desain dan meningkatkan produksi untuk memastikan keunggulan strategis di wilayah Asia‑Pasifik dan sekitarnya.