Setapak Langkah – 17 Juni 2026 | Menanggapi kebutuhan peningkatan cadangan energi nasional, Menteri Investasi dan UKM Bahlil Lahadalia menyatakan rencananya untuk membangun fasilitas penyimpanan energi khusus bagi sistem CPE (Compressed Power Energy). Ide ini muncul seiring pemerintah menargetkan cadangan energi yang kini berada pada kisaran 18‑21 hari dapat ditingkatkan menjadi minimal 30 hari.
Direktorat Energi Nasional (DEN) turut mendukung inisiatif tersebut dengan melakukan kajian pemanfaatan tangki‑tangki yang saat ini berstatus ‘idle’ atau tidak terpakai. Menurut hasil studi awal, penggunaan kembali tangki‑tangki industri, terutama yang berkapasitas besar, dapat menurunkan biaya investasi penyimpanan hingga 30 % dibandingkan pembangunan infrastruktur baru.
Berikut beberapa poin kunci dari rencana tersebut:
- Tujuan utama: Memperpanjang cadangan energi nasional menjadi minimal 30 hari untuk mengantisipasi fluktuasi pasokan listrik.
- Strategi pemanfaatan: Mengonversi tangki‑tangki idle menjadi modul penyimpanan energi berbasis tekanan atau cairan.
- Manfaat ekonomi: Mengurangi kebutuhan modal baru, mempercepat waktu operasional, dan menciptakan lapangan kerja di sektor rekayasa ulang.
- Target pelaksanaan: Studi kelayakan selesai akhir 2026, pembangunan fase pertama dimulai 2027.
Untuk memberikan gambaran perbandingan, tabel di bawah ini menampilkan estimasi cadangan energi sebelum dan sesudah implementasi program:
| Parameter | Sebelum | Setelah |
|---|---|---|
| Hari cadangan energi nasional | 18‑21 hari | ≥30 hari |
| Biaya investasi (dalam miliar Rupiah) | ~1.200 | ~840 (30 % penghematan) |
| Waktu pembangunan | ~3‑4 tahun | ~2‑3 tahun |
Para pakar energi menilai bahwa strategi pemanfaatan infrastruktur yang sudah ada merupakan langkah pragmatis. Mereka menekankan pentingnya standar keamanan yang ketat serta integrasi sistem kontrol yang canggih agar penyimpanan berbasis tangki dapat beroperasi secara andal.
Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah, dukungan teknis DEN, dan partisipasi sektor swasta, diharapkan program ini dapat menjadi model efisiensi energi bagi negara‑negara lain di kawasan Asia Tenggara.