Setapak Langkah – 11 Juni 2026 | Sentimen positif seputar kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) kembali menguatkan prospek penguatan rupiah di tengah volatilitas pasar global.
Kenaikan suku bunga acuan BI pada kuartal terakhir memberikan sinyal bahwa otoritas moneter siap menahan tekanan inflasi, sehingga meningkatkan kepercayaan investor terhadap mata uang domestik.
- BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,5%.
- Rupiah menembus level 14.800 per dolar pada sesi perdagangan terbaru.
- Harga minyak dunia mengalami penurunan, mengurangi beban impor energi.
Berikut rangkuman data utama yang memengaruhi nilai tukar rupiah dalam beberapa minggu terakhir:
| Periode | Suku Bunga BI | Kurs Rupiah (per USD) | Harga Minyak Brent (USD/barrel) |
|---|---|---|---|
| Q2 2024 | 6,25% | 15.200 | 78,5 |
| Q3 2024 | 6,50% | 14.800 | 73,2 |
Analisis menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan suku bunga yang lebih tinggi dan penurunan harga minyak menciptakan lingkungan yang mendukung apresiasi rupiah. Namun, faktor eksternal seperti kebijakan moneter Amerika Serikat dan gejolak geopolitik tetap menjadi risiko yang perlu dipantau.
Jika BI mempertahankan atau melanjutkan kebijakan pengetatan, serta pasar energi global tetap stabil, prospek penguatan rupiah dapat berlanjut dalam jangka menengah.