Setapak Langkah – 10 Juni 2026 | JAKARTA — Pada tengah hari yang terik, sinar matahari Semarang menyinari Jalan Cilosari Dalam, Kelurahan Kemijen, Semarang Timur. Di tengah hiruk‑pikuk lalu lintas, sebuah mobil berhenti di depan palang pintu perlintasan kereta api yang terkenal dengan sebutan “Palang Terakhir”. Kejadian ini menyoroti dua sisi penting dari jaringan rel kereta di kota ini: warisan historis rel pertama yang menghubungkan Semarang dengan pelabuhan, sekaligus tantangan keselamatan di perlintasan yang masih menggunakan palang manual.
Rel pertama di Semarang dibangun pada awal abad ke‑20 oleh pemerintah kolonial Belanda. Tujuannya adalah mengangkut barang hasil perkebunan dan hasil tambang ke pelabuhan Tanjung Emas. Jalur tersebut menjadi tulang punggung transportasi barang dan penumpang selama lebih dari satu abad, hingga kini sebagian masih beroperasi sebagai jalur commuter line yang melintasi area padat penduduk.
Namun, seiring pertumbuhan kota, perlintasan level crossing yang dulu cukup aman kini menjadi titik rawan. Palang terakhir di Cilosari Dalam adalah salah satu yang paling sering dilaporkan mengalami kegagalan sinkronisasi antara kereta yang melintas dan kendaraan yang menyeberang. Menurut data Dinas Perhubungan, dalam satu tahun terakhir tercatat lebih dari 30 insiden hampir tabrakan di lokasi ini.
- Penyebab utama: mekanisme palang yang masih manual, kurangnya penerangan pada malam hari, dan kepadatan kendaraan yang tinggi.
- Dampak: penundaan jadwal kereta, meningkatnya risiko kecelakaan, serta gangguan lalu lintas jalan raya.
- Langkah pemerintah: penggantian palang manual dengan sistem otomatis, pemasangan lampu peringatan LED, dan peningkatan patroli keamanan.
Pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) menegaskan bahwa modernisasi perlintasan menjadi prioritas. “Kami sedang menyiapkan anggaran khusus untuk meng-upgrade semua palang level crossing yang masih konvensional, termasuk yang ada di Semarang,” ujar juru bicara KAI dalam konferensi pers bulan lalu.
Selain upaya teknis, edukasi masyarakat juga menjadi kunci. Kampanye keselamatan jalan yang melibatkan sekolah, komunitas motor, dan media sosial telah diluncurkan untuk mengingatkan pengguna jalan agar selalu menunggu sinyal hijau sebelum menyeberang.
Dengan kombinasi perbaikan infrastruktur dan peningkatan kesadaran publik, diharapkan “Palang Terakhir” tidak lagi menjadi titik kritis, melainkan simbol keberhasilan integrasi warisan sejarah rel pertama dengan teknologi keselamatan modern.