Setapak Langkah – 07 Juni 2026 | Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memberikan klarifikasi terkait kecemasan pasar tentang fenomena “Sell Indonesia” yang muncul belakangan ini. Ia menegaskan bahwa situasi saat ini tidak menyerupai krisis finansial 1998.
Latihan pasar dan kekhawatiran investor
Sejumlah investor domestik dan internasional mengamati penurunan indeks saham yang cukup tajam, yang memicu spekulasi bahwa tekanan jual dapat berujung pada krisis moneter serupa dengan yang terjadi pada akhir 1990‑an. Beberapa media bahkan menyoroti “sell‑off” sebagai sinyal ketidakstabilan ekonomi.
Pernyataan Purbaya
Purbaya menolak pandangan tersebut dengan menekankan tiga poin utama: stabilitas nilai tukar masih terjaga, cadangan devisa berada pada level yang aman, dan kebijakan moneter serta fiskal telah disesuaikan untuk meredam volatilitas. Ia menambahkan bahwa otoritas moneter terus memantau likuiditas pasar dan siap mengambil tindakan jika diperlukan.
Data pasar terkini
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| IDX Composite (per 5 Juni 2026) | 6,842 poin |
| Rasio Cadangan Devisa | US$ 133 miliar |
| Inflasi YoY | 3,2 % |
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam zona aman, meski terdapat tekanan eksternal.
Langkah-langkah pemerintah
- Penguatan likuiditas melalui operasi pasar terbuka.
- Peningkatan koordinasi dengan Bank Indonesia untuk mengendalikan arus modal.
- Penerapan kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan tanpa menambah beban inflasi.
- Pemantauan ketat terhadap sektor keuangan untuk mencegah praktik spekulatif.
Dengan rangkaian kebijakan ini, Purbaya yakin bahwa ekonomi Indonesia mampu menahan goncangan dan tidak akan mengulangi skenario 1998. Ia mengajak semua pelaku pasar untuk tetap tenang dan mempercayakan stabilitas ekonomi pada kebijakan yang telah dirumuskan.