Setapak Langkah – 06 Juni 2026 | Warung tegal (warteg) kini menghadapi tekanan berat akibat inflasi yang menggerogoti daya beli konsumen. Sebagian besar pembeli terpaksa menurunkan anggaran makan siang menjadi sekitar Rp15.000.
- Tempe goreng – sumber protein nabati yang relatif murah.
- Sayur bening (biasanya bayam atau kangkung) – menambah serat dan vitamin.
- Tahu – tambahan protein dan tekstur.
- Telur asin – memberi rasa gurih dan asupan protein tambahan.
- Kerupuk – sebagai penambah rasa kriuk.
Para penjual mengakui bahwa biaya bahan baku seperti beras, minyak goreng, dan listrik telah naik signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Sebagai respons, banyak warteg yang mengurangi porsi nasi, mengganti lauk mahal dengan bahan yang lebih ekonomis, atau menambah harga secara bertahap.
Berikut adalah gambaran perubahan biaya operasional yang dilaporkan oleh sebagian pedagang:
| Bahan | Kenaikan Harga (%) |
|---|---|
| Minyak goreng | +25 |
| Listrik | +18 |
| Beras | +12 |
Akibat tekanan tersebut, sebagian warteg terpaksa menutup sebagian jam operasional atau mengurangi jumlah kursi yang tersedia. Namun, sebagian lainnya mencoba inovasi, seperti menawarkan paket “hemat” dengan harga tetap Rp15.000 yang mencakup semua elemen di atas.
Pengamat ekonomi menilai bahwa fenomena ini mencerminkan penurunan daya beli kelas menengah ke bawah, serta kebutuhan konsumen akan makanan yang terjangkau namun tetap bernutrisi. Jika tren inflasi berlanjut, diperkirakan lebih banyak warteg akan beralih ke model bisnis berbasis paket hemat atau bahkan mengubah konsep usaha menjadi kios makanan cepat saji dengan harga yang lebih bersaing.