Setapak Langkah – 25 Mei 2026 | Krisis iklim yang semakin intens menambah tekanan pada usaha-usaha kecil yang dikelola perempuan di Indonesia. Perubahan pola hujan, peningkatan suhu, serta bencana alam seperti banjir dan tanah longsor mengganggu rantai pasokan, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan biaya operasional, terutama bagi pelaku usaha di sektor pertanian, perikanan, dan kerajinan.
Di tengah tantangan tersebut, akses terhadap pembiayaan hijau—dana yang diarahkan untuk proyek ramah lingkungan dan adaptasi iklim—masih sangat terbatas. Banyak perempuan pengusaha melaporkan bahwa persyaratan jaminan yang tinggi, proses aplikasi yang birokratis, serta kurangnya informasi mengenai produk keuangan berkelanjutan menjadi penghalang utama.
Berikut ini beberapa kendala utama yang dihadapi:
- Kurangnya jaminan atau agunan yang dapat diterima oleh lembaga keuangan konvensional.
- Rendahnya literasi keuangan hijau dan pengetahuan tentang teknologi adaptasi.
- Prioritas pemberian kredit yang masih condong ke sektor tradisional dan maskulin.
- Terbatasnya jaringan pendukung, seperti inkubator bisnis dan program mentoring yang fokus pada keberlanjutan.
Data terbaru menunjukkan kesenjangan signifikan antara perempuan dan laki-laki dalam memperoleh dana hijau:
| Kelompok | Persentase yang Mendapatkan Pembiayaan Hijau |
|---|---|
| Pengusaha Perempuan | 12% |
| Pengusaha Laki-laki | 27% |
Untuk memperkuat ekonomi perempuan di era perubahan iklim, sejumlah langkah strategis diperlukan:
- Pengembangan produk pembiayaan khusus yang menurunkan persyaratan agunan, misalnya kredit berbasis aset tidak bergerak atau jaminan pemerintah.
- Peningkatan kapasitas melalui pelatihan literasi keuangan hijau dan demonstrasi teknologi adaptasi (irigasi hemat air, varietas tanaman tahan kering, dll.).
- Kolaborasi antara bank, lembaga keuangan mikro, dan organisasi masyarakat sipil untuk membangun jaringan pendampingan.
- Inisiatif kebijakan yang memberikan insentif fiskal bagi lembaga keuangan yang menyalurkan kredit hijau kepada perempuan.
- Pengumpulan data tersegmentasi gender untuk memantau kemajuan dan menyesuaikan program secara dinamis.
Dengan memperluas akses pembiayaan hijau dan memperkuat kapasitas adaptasi, usaha perempuan tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga berkontribusi pada transisi ekonomi berkelanjutan Indonesia.