Setapak Langkah – 24 Mei 2026 | Retno Gumilang Dewi, pakar transisi energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menilai bahwa penerapan bahan bakar nabati B50 berpotensi signifikan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor minyak bumi.
B50 adalah campuran 50% biodiesel dan 50% diesel konvensional. Menurut analisisnya, penggunaan B50 dapat menurunkan volume impor minyak hingga 15-20 persen dalam lima tahun pertama, sekaligus menurunkan emisi CO2 sekitar 8 persen dibandingkan diesel murni.
Berikut beberapa poin utama yang diungkapkan:
- Pengurangan impor: Dengan memanfaatkan minyak nabati lokal seperti kelapa sawit, kelapa, dan jarak, Indonesia dapat menutup sebagian kebutuhan bahan bakar.
- Stimulus bagi sektor pertanian: Peningkatan permintaan biodiesel membuka peluang pasar baru bagi petani dan industri pengolahan kelapa sawit.
- Keuntungan lingkungan: Biodiesel menghasilkan pembakaran yang lebih bersih, mengurangi partikel PM2,5 dan sulfur.
- Tantangan infrastruktur: Penyediaan fasilitas pencampuran dan distribusi B50 masih terbatas, memerlukan investasi tambahan.
- Isu harga: Harga bahan baku nabati yang fluktuatif dapat memengaruhi biaya produksi biodiesel.
Data perkiraan dampak B50 dalam jangka waktu tiga tahun ke depan dirangkum dalam tabel berikut:
| Tahun | Volume Impor Minyak (juta barrel) | Penurunan Emisi CO2 (kt) |
|---|---|---|
| 2024 | 2.800 | 120 |
| 2025 | 2.500 | 150 |
| 2026 | 2.200 | 180 |
Retno menekankan pentingnya dukungan kebijakan yang konsisten, termasuk insentif fiskal bagi produsen biodiesel serta standar kualitas yang jelas. Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan B50 tidak hanya bergantung pada teknologi produksi, melainkan pada sinergi antara pemerintah, industri, dan petani.
Jika strategi tersebut dijalankan secara terintegrasi, B50 dapat menjadi salah satu pilar utama dalam upaya Indonesia mencapai kemandirian energi dan target pengurangan emisi nasional.