Setapak Langkah – 22 Mei 2026 | Rumor kebocoran data nasabah Bank Central Asia (BCA) yang mencapai 4,9 juta akun menyebar luas di media sosial dan forum daring. Menurut spekulasi, data tersebut konon telah dipasarkan di jaringan gelap (dark web) dan meliputi nama lengkap, nomor identitas, serta rincian rekening.
Pihak BCA segera memberikan klarifikasi resmi. Bank menegaskan bahwa seluruh sistem keamanan informasi tetap berfungsi dengan baik dan tidak ada indikasi data nasabah yang berhasil diakses atau dicuri. BCA juga menyatakan bahwa mereka terus memantau aktivitas siber secara intensif dan berkoordinasi dengan lembaga penegak hukum.
Berikut beberapa fakta penting yang dapat membantu masyarakat memahami situasi ini:
- Sumber rumor: Klaim kebocoran beredar melalui posting anonim di forum dark web tanpa bukti teknis yang dapat diverifikasi.
- Respons BCA: Bank melakukan audit internal, memperkuat enkripsi data, dan meningkatkan pemantauan jaringan.
- Peran regulator: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dipersiapkan untuk menindaklanjuti laporan jika terbukti ada pelanggaran.
- Langkah pencegahan bagi nasabah: Ganti kata sandi secara berkala, aktifkan otentikasi dua faktor, dan hindari mengklik tautan mencurigakan.
Meskipun belum ada bukti konkret yang mengonfirmasi kebocoran tersebut, peristiwa ini mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam melindungi data pribadi, terutama pada platform perbankan yang menyimpan informasi sensitif. Nasabah disarankan untuk selalu memantau riwayat transaksi dan melaporkan aktivitas yang tidak dikenali kepada pihak bank.