Setapak Langkah – 06 Mei 2026 | Barisan Bintara Pembina (Babinsa) di sejumlah desa baru-baru ini mengikuti program bimbingan teknis (bimtek) selama dua minggu untuk ditunjuk sebagai mandor pada program Kopdes Merah Putih, inisiatif pemerintah yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan produksi hortikultura di tingkat desa.
Rangkaian pelatihan
Pelatihan yang dilaksanakan oleh Balai Penyuluhan Pertanian setempat mencakup materi manajemen kebun, teknik irigasi sederhana, penggunaan pupuk organik, serta prosedur pencatatan dan pelaporan hasil panen. Peserta juga diajari cara memimpin kelompok tani dan mengoptimalkan koordinasi dengan dinas terkait.
Harapan pihak penyelenggara
Penyelenggara menyatakan bahwa setelah menyelesaikan bimtek, Babinsa diharapkan dapat berperan sebagai penghubung utama antara pemerintah, penyuluh, dan petani, sekaligus mengawasi pelaksanaan standar teknis di lapangan. Mereka menekankan bahwa kehadiran mandor yang familiar dengan kondisi desa dapat mempercepat pencapaian target produksi Kopdes Merah Putih.
Kritik dari pengamat
Beberapa pakar pertanian mengingatkan bahwa kompetensi teknis tidak dapat diciptakan dalam kurun waktu singkat. Menurut Dr. Arif Wibowo, dosen Fakultas Pertanian Universitas X, “Dua minggu pelatihan memang memberi gambaran umum, namun penerapan praktis membutuhkan pengalaman lapangan yang panjang dan pembelajaran berkelanjutan.” Pengamat lain menambahkan bahwa bila mandor yang baru dilatih belum memiliki pemahaman mendalam, risiko kesalahan teknis—seperti pemupukan berlebih atau pemilihan varietas tidak sesuai—dapat menurunkan produktivitas dan menimbulkan kerugian bagi petani.
Implikasi terhadap kualitas program
Jika kompetensi teknis tidak memadai, program Kopdes Merah Putih berpotensi kehilangan kepercayaan petani, yang pada gilirannya dapat menghambat adopsi teknologi pertanian modern. Selain itu, kegagalan dalam pengawasan dapat memperparah masalah lingkungan, seperti penggunaan pupuk kimia secara tidak tepat.
Langkah ke depan
Untuk mengurangi risiko tersebut, pakar menyarankan beberapa langkah:
- Menetapkan mekanisme evaluasi pasca‑bimtek yang melibatkan penyuluh lapangan.
- Memberikan pelatihan lanjutan secara periodik, misalnya setiap tiga bulan, untuk memperkuat pengetahuan praktis.
- Mengintegrasikan sistem mentoring di mana mandor baru dibimbing oleh mandor berpengalaman.
- Menyediakan akses ke materi pembelajaran daring yang dapat diakses kapan saja.
Dengan pendekatan yang lebih terstruktur, diharapkan Babinsa dapat bertransformasi menjadi mandor yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu mengatasi tantangan operasional di lapangan, sehingga program Kopdes Merah Putih dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa.