Setapak Langkah – 06 Mei 2026 | Seorang tokoh senior militer Iran, Mohsen Rezaee, baru-baru ini melontarkan sindiran tajam kepada para pemimpin Amerika Serikat, menuding bahwa kebijakan luar negeri Washington lebih mengandalkan retorika semata daripada pencapaian nyata. Dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh media internasional, Rezaee menegaskan bahwa setiap aksi militer yang dilakukan oleh Amerika di kawasan Timur Tengah akan menemui kegagalan, mengingat sejarah panjang intervensi AS yang berujung pada kekecewaan.
Rezaee menyebutkan contoh konkret yaitu kegagalan misi penyelamatan sandera Amerika yang terjadi pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Ia menyoroti bahwa operasi tersebut tidak hanya gagal, tetapi juga memperburuk citra Amerika di mata dunia, khususnya di wilayah yang selama ini menjadi arena persaingan geopolitik.
Berikut beberapa poin utama yang disampaikan Rezaee:
- Amerika Serikat belum mampu menunjukkan prestasi militer yang signifikan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.
- Setiap tindakan agresif yang dilakukan Washington akan berujung pada kerugian material dan moral bagi pasukannya.
- Kebijakan “jual khayalan” yang dipromosikan oleh pemerintahan AS hanyalah upaya menutupi ketidakmampuannya menghasilkan hasil konkret.
Rezaee juga memperingatkan bahwa jika Washington terus melanjutkan operasi militer tanpa pertimbangan diplomatik yang matang, maka konsekuensi yang akan dihadapi tidak hanya terbatas pada kerugian militer, melainkan juga dapat memicu peningkatan sentimen anti‑Amerika di kalangan negara‑negara sahabat Iran.
Para pengamat menilai pernyataan ini mencerminkan strategi Iran untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi internasional. Dengan menekankan kegagalan historis Amerika, Iran berupaya menambah tekanan psikologis terhadap kebijakan luar negeri AS sekaligus mempertegas komitmennya terhadap kedaulatan regional.
Meski demikian, sejumlah pakar hubungan internasional mengingatkan bahwa retorika keras tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan kebijakan nyata. Mereka menilai bahwa dialog dan diplomasi tetap menjadi jalur paling efektif untuk mengurangi ketegangan, meskipun kata‑kata tajam seperti yang diucapkan Rezaee dapat memengaruhi persepsi publik di kedua negara.