Setapak Langkah – 05 Mei 2026 | Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, menegaskan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami penurunan signifikan bila konflik militer di Iran terus berlanjut hingga tahun 2027. Menurut analisis terbaru IMF, ketegangan geopolitik tersebut dapat menurunkan pertumbuhan global dari 3,2% menjadi di bawah 2,5% dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Georgieva menjelaskan bahwa konflik berkepanjangan akan memicu gangguan pada rantai pasokan energi, meningkatkan volatilitas harga minyak, serta menekan arus perdagangan internasional. Dampak tersebut akan dirasakan secara merata oleh negara‑negara maju maupun berkembang, terutama yang sangat tergantung pada impor energi.
Berikut beberapa implikasi utama yang diidentifikasi IMF:
- Peningkatan inflasi: Harga minyak dan gas yang naik dapat mendorong inflasi ke level 4‑5% di banyak ekonomi, menurunkan daya beli konsumen.
- Penurunan investasi asing: Ketidakpastian geopolitik mengurangi kepercayaan investor, memperlambat aliran modal ke pasar berkembang.
- Gangguan perdagangan: Sanksi tambahan dan pembatasan transportasi barang dapat mengurangi volume perdagangan global sebesar 1‑2% per tahun.
- Tekanan pada neraca pembayaran: Negara‑negara yang mengandalkan ekspor energi akan menghadapi defisit neraca perdagangan yang lebih besar.
IMF juga menekankan pentingnya koordinasi kebijakan moneter dan fiskal di tingkat internasional untuk meredam dampak negatif. Kebijakan stimulus yang terarah, penguatan cadangan devisa, dan diversifikasi sumber energi menjadi langkah strategis yang disarankan.
Jika konflik dapat dihindari atau diselesaikan sebelum 2027, IMF memperkirakan pertumbuhan global dapat kembali ke kisaran 3% atau lebih, mengurangi risiko resesi berulang di beberapa wilayah. Oleh karena itu, lembaga tersebut menyerukan dialog diplomatik intensif serta upaya penurunan ketegangan di kawasan Timur Tengah.