Setapak Langkah – 05 Mei 2026 | Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, menyatakan bahwa surplus neraca perdagangan pada bulan Maret memberikan dorongan positif bagi perekonomian Indonesia. Menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), negara mencatat surplus sebesar Rp 14,3 triliun pada Maret 2024, meningkat dibandingkan surplus Februari yang sebesar Rp 12,5 triliun.
Kenaikan ini dipicu oleh pertumbuhan ekspor yang signifikan serta moderasi impor. Nilai ekspor pada Maret mencapai Rp 146,3 triliun, naik 6,8% secara tahunan, sementara impor tercatat Rp 132,0 triliun, turun 1,2% dibandingkan tahun lalu. Komoditas utama yang menyumbang peningkatan ekspor meliputi kelapa sawit, batu bara, serta produk manufaktur elektronik.
| Bulan | Ekspor (Rp triliun) | Impor (Rp triliun) | Surplus (Rp triliun) |
|---|---|---|---|
| Februari 2024 | 137,2 | 124,7 | 12,5 |
| Maret 2024 | 146,3 | 132,0 | 14,3 |
Surplus perdagangan yang lebih besar berkontribusi pada perbaikan neraca pembayaran dan mengurangi tekanan pada nilai tukar Rupiah. Eko Listiyanto menilai bahwa kondisi ini dapat menambah ruang fiskal bagi pemerintah dalam mengalokasikan anggaran untuk program pembangunan dan stimulus ekonomi.
Selain itu, peningkatan ekspor diperkirakan akan menambah pendapatan devisa, yang selanjutnya dapat memperkuat cadangan devisa Bank Indonesia. Cadangan devisa pada akhir Maret tercatat mencapai US$ 141,2 miliar, menunjukkan stabilitas moneter yang lebih baik.
Namun, Indef juga mengingatkan bahwa tantangan eksternal seperti fluktuasi harga komoditas global dan kebijakan perdagangan negara mitra tetap perlu dipantau. Kebijakan pemerintah yang mendukung diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan nilai tambah produk dipandang penting untuk menjaga momentum positif ini ke depan.