Setapak Langkah – 26 April 2026 | Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan komitmen kuat pemerintah provinsi untuk menuntaskan permasalahan sampah dan mengubahnya menjadi sumber energi terbarukan pada tahun 2028. Inisiatif ini menjadi bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan yang menggabungkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Visi Bersih Tanpa Sampah
Visi “Bali bersih tanpa masalah sampah” menekankan tiga pilar utama: pengurangan volume sampah, pemilahan di sumber, serta konversi limbah menjadi energi listrik atau panas melalui teknologi waste-to-energy (WtE). Target akhir tahun 2028 adalah menurunkan jumlah sampah yang masuk ke TPA tradisional hingga 70 %.
Strategi Implementasi
- Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat: Program kampanye di sekolah, tempat kerja, dan komunitas untuk mengajarkan cara memilah sampah organik, anorganik, dan berbahaya.
- Infrastruktur Pemilahan: Penyediaan tempat sampah terpisah di area publik, pasar, dan kawasan wisata, serta pemasangan pusat kompos berskala mikro.
- Fasilitas WtE: Pembangunan tiga unit pembangkit listrik berbasis gasifikasi sampah organik dengan kapasitas total 15 MW, yang diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan listrik sekitar 5 % wilayah Bali.
- Insentif Ekonomi: Pemberian subsidi bagi pelaku usaha daur ulang dan tarif listrik khusus bagi rumah tangga yang aktif memisahkan sampah.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
| Aspek | Manfaat |
|---|---|
| Penciptaan Lapangan Kerja | Diperkirakan 2.500 pekerjaan baru dalam sektor pengelolaan sampah dan energi terbarukan. |
| Pengurangan Emisi | Penurunan emisi CO₂ sebesar 150.000 ton per tahun dibandingkan dengan pembakaran sampah terbuka. |
| Ketahanan Energi | Menambah cadangan energi terbarukan, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. |
| Penghematan Biaya | Pengurangan biaya pengelolaan TPA hingga 30 % melalui pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar. |
Dengan langkah‑langkah tersebut, Bali tidak hanya berupaya menyelesaikan krisis sampah, tetapi juga mengubah tantangan menjadi peluang ekonomi baru. Keberhasilan program ini diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam mengintegrasikan pengelolaan limbah dengan produksi energi bersih.