Setapak Langkah – 26 April 2026 | Badan Pengawas Sistem Makanan (Bappisus) Jakarta resmi menangguhkan operasi sebanyak 1.700 dapur Masakan Bukan Garam (MBG) setelah menemukan praktik pengurangan porsi makanan yang disajikan kepada penerima manfaat.
Audit lapangan mengungkap bahwa sebagian besar dapur tersebut mengurangi takaran nasi, lauk, dan sayuran secara signifikan dengan alasan efisiensi biaya. Meskipun langkah tersebut dapat menurunkan beban anggaran, Bappisus menilai bahwa tindakan ini berpotensi mengurangi nilai gizi yang seharusnya diperoleh oleh penerima, terutama anak-anak sekolah dan keluarga berpendapatan rendah.
Berikut beberapa dampak yang dapat timbul akibat pemotongan porsi:
- Penurunan asupan energi dan protein yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal.
- Kekurangan vitamin dan mineral penting seperti zat besi, vitamin A, dan kalsium.
- Peningkatan risiko stunting dan anemia pada anak-anak.
- Berpotensi menurunkan produktivitas kerja orang dewasa karena kurangnya energi.
Bappisus telah mengeluarkan surat peringatan kepada pengelola dapur MBG yang terlibat, sekaligus memberikan batas waktu tiga minggu untuk memperbaiki standar porsi sesuai pedoman gizi nasional. Jika tidak ada perbaikan, suspensi akan berlanjut hingga kepatuhan terpenuhi.
Pengelola dapur menanggapi dengan mengakui tekanan anggaran, namun menyatakan komitmen untuk menyesuaikan kembali takaran makanan. Beberapa organisasi non‑pemerintah juga menawarkan bantuan tambahan berupa suplai bahan pangan dan pelatihan manajemen keuangan bagi dapur yang terdampak.
Ke depan, Bappisus berencana memperkuat mekanisme monitoring dengan inspeksi periodik dan penggunaan aplikasi digital untuk melaporkan volume distribusi makanan. Upaya ini diharapkan dapat menjaga kualitas gizi sekaligus mengoptimalkan penggunaan anggaran program sosial.