Setapak Langkah – 25 April 2026 | Tekanan dari pasar keuangan global kembali menguat pada pertengahan April 2026, dipicu oleh kebijakan moneter ketat di negara-negara maju, fluktuasi harga komoditas, serta ketidakpastian geopolitik. Kondisi ini menambah beban pada nilai tukar rupiah yang sudah mengalami penurunan dalam beberapa minggu terakhir.
Menanggapi situasi tersebut, Bank Indonesia (BI) memperketat intervensi di pasar valuta asing. Langkah-langkah yang diambil meliputi peningkatan penjualan devisa melalui operasi pasar terbuka, pemanfaatan fasilitas swap valuta asing, serta koordinasi dengan lembaga keuangan domestik untuk menstabilkan likuiditas. Intervensi ini dilakukan secara intensif, dengan volume transaksi yang lebih besar dibandingkan periode sebelumnya.
Berikut adalah rangkaian nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam dua minggu terakhir:
| Tanggal | Rupiah per USD |
|---|---|
| 12 Apr 2026 | 15,180 |
| 14 Apr 2026 | 15,220 |
| 16 Apr 2026 | 15,250 |
| 18 Apr 2026 | 15,210 |
| 20 Apr 2026 | 15,200 |
Data menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan naik, nilai tukar berhasil dipertahankan dalam kisaran yang relatif stabil berkat intervensi BI. Pengendalian nilai tukar diharapkan dapat menurunkan risiko inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga impor.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan moneter akan tetap bersifat fleksibel namun tegas, dengan fokus utama pada stabilitas harga dan nilai tukar. Ia menambahkan bahwa intervensi pasar akan terus dipantau dan disesuaikan sesuai dengan dinamika global, sambil tetap memperhatikan kondisi likuiditas domestik.
Ke depan, BI memperkirakan bahwa volatilitas pasar masih dapat berlanjut, terutama bila kebijakan suku bunga di negara maju berubah atau terjadi gejolak politik internasional. Oleh karena itu, otoritas menghimbau pelaku usaha dan investor untuk tetap waspada, mengelola risiko valuta asing dengan hati-hati, serta memantau kebijakan moneter secara berkala.