Setapak Langkah – 07 April 2026 | Tim peneliti Universitas Brawijaya yang dipimpin oleh Prof. Dr. Aulanni’am berhasil mengembangkan sebuah perangkat portable untuk mendeteksi hipotiroidisme pada bayi baru lahir secara cepat dan akurat.
Hipotiroidisme kongenital merupakan gangguan tiroid yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan otak bila tidak terdiagnosa sejak dini. Di Indonesia, estimasi kasusnya mencapai 1 per 3.000 kelahiran, namun sebagian besar bayi belum mendapatkan skrining pada waktu yang tepat.
Alat yang dikembangkan berbasis sensor biosensor elektroda yang dapat mengukur kadar hormon tiroid (TSH) dalam sampel darah kapiler hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Prosesnya meliputi tiga langkah utama:
- Pengambilan setetes darah dari tumit bayi menggunakan lancet steril.
- Penempatan sampel pada cartridge disposable yang terhubung ke perangkat.
- Analisis otomatis oleh chip sensor yang menampilkan hasil pada layar LCD.
Keunggulan utama perangkat ini antara lain:
- Waktu hasil yang sangat singkat (≤5 menit).
- Portabilitas tinggi, dapat dibawa ke fasilitas kesehatan terpencil.
- Biaya operasional yang rendah karena tidak memerlukan laboratorium sentral.
- Akurasi yang sebanding dengan metode laboratorium konvensional, dengan sensitivitas >98% dan spesifisitas >97% berdasarkan uji klinis fase pertama.
Uji klinis yang melibatkan lebih dari 300 bayi di rumah sakit mitra menunjukkan bahwa perangkat ini dapat mengidentifikasi kasus hipotiroidisme kongenital dengan tingkat kesalahan yang sangat minim. Data hasil uji klinis dirangkum dalam tabel berikut:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Sensitivitas | 98,4% |
| Spesifisitas | 97,2% |
| Waktu Analisis | 4,8 menit |
Prof. Dr. Aulanni’am menjelaskan bahwa tujuan utama pengembangan alat ini adalah memperluas jangkauan skrining neonatal, khususnya di daerah dengan akses laboratorium terbatas. Ia menambahkan bahwa tim akan melanjutkan proses sertifikasi dan produksi massal menjelang akhir tahun ini.
Jika berhasil diimplementasikan secara nasional, diharapkan angka deteksi dini hipotiroidisme pada bayi baru lahir dapat meningkat secara signifikan, sehingga intervensi terapi dapat dimulai lebih cepat dan mencegah komplikasi jangka panjang.