Setapak Langkah – 02 April 2026 | Pada pagi hari Kamis, nilai tukar rupiah tercatat menguat satu poin atau sekitar 0,01 persen, bergerak ke level Rp16.982 per dolar Amerika Serikat. Penguatan ini dipicu oleh pergerakan positif dalam neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Surplus perdagangan menjadi salah satu faktor utama yang memberi tekanan beli pada mata uang lokal. Data terbaru menunjukkan bahwa selama tiga bulan terakhir, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$5,2 miliar, naik signifikan dari surplus US$3,7 miliar pada kuartal sebelumnya. Peningkatan ekspor terutama didorong oleh komoditas energi, produk pertanian, dan barang manufaktur, sementara impor mengalami penurunan karena harga energi global yang lebih rendah serta kebijakan pengendalian impor barang konsumsi.
| Bulan | Surplus Perdagangan (USD Miliar) | Kurs Rupiah (per USD) |
|---|---|---|
| Januari | 1,8 | Rp16.950 |
| Februari | 1,6 | Rp16.970 |
| Maret | 1,8 | Rp16.982 |
Peningkatan surplus ini juga memberi sinyal positif bagi cadangan devisa negara, yang kini berada pada level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Cadangan yang kuat menambah kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, sekaligus menurunkan tekanan inflasi yang dipicu oleh biaya impor.
Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa kebijakan moneter tetap berada pada jalur yang hati-hati, dengan suku bunga acuan yang stabil dan intervensi pasar yang terbatas. Penguatan rupiah yang bersifat moderat diharapkan tidak mengganggu daya saing ekspor, karena masih berada dalam kisaran yang wajar bagi pelaku usaha.
Para analis memproyeksikan bahwa selama surplus perdagangan tetap berada di atas level historis, rupiah dapat terus menguat secara bertahap. Namun, faktor eksternal seperti kebijakan moneter Amerika Serikat dan dinamika harga komoditas global tetap menjadi variabel yang perlu dipantau.