Setapak Langkah – 02 April 2026 | Indonesia sangat bergantung pada impor sulfur, khususnya dari negara-negara Timur Tengah, untuk memproduksi pupuk urea yang menjadi komponen utama dalam pertanian nasional. Ketergantungan ini menimbulkan kerawanan karena fluktuasi geopolitik, harga, dan gangguan logistik yang dapat mengancam stabilitas pasokan pupuk serta ketahanan pangan.
Petrokimia Gresik (PG) sebagai produsen pupuk terbesar di Indonesia mengambil langkah strategis untuk mengurangi risiko tersebut dengan memperkuat rantai pasok sulfur secara domestik. Upaya tersebut mencakup peningkatan kapasitas pengolahan, diversifikasi sumber bahan baku, dan kerja sama dengan perusahaan tambang dalam negeri.
Faktor Risiko Impor Sulfur dari Timur Tengah
- Geopolitik: Ketegangan di wilayah Timur Tengah dapat mempengaruhi jalur pengiriman dan menimbulkan sanksi perdagangan.
- Fluktuasi Harga: Harga sulfur dunia cenderung berfluktuasi tajam, mempengaruhi biaya produksi pupuk.
- Gangguan Logistik: Pelabuhan dan rute laut yang sibuk atau terhambat dapat menunda kedatangan bahan baku.
Langkah Strategis Petrokimia Gresik
- Meningkatkan kapasitas unit produksi sulfur di fasilitas Gresik.
- Mengembangkan program kerjasama dengan perusahaan tambang batubara dan batu kapur di Indonesia untuk ekstraksi sulfur sebagai produk sampingan.
- Investasi dalam teknologi pemrosesan yang lebih efisien, termasuk penggunaan proses katalitik dan daur ulang limbah.
- Mengamankan kontrak jangka panjang dengan pemasok domestik untuk menjamin ketersediaan bahan baku.
- Melakukan diversifikasi produk pupuk, seperti peningkatan produksi pupuk NPK yang tidak terlalu bergantung pada sulfur.
Data Impor Sulfur Indonesia (2023)
| Sumber | Volume (ton) | Persentase Impor |
|---|---|---|
| Timur Tengah | 1,200,000 | 78% |
| Asia Selatan | 200,000 | 13% |
| Lainnya | 100,000 | 9% |
Dengan mengalihkan sebagian besar kebutuhan sulfur ke sumber domestik, PG berpotensi menurunkan ketergantungan impor hingga 30% dalam lima tahun ke depan. Penurunan tersebut tidak hanya mengurangi risiko geopolitik, tetapi juga dapat menstabilkan harga pupuk bagi petani, meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Penguatan rantai pasok sulfur juga diharapkan dapat membuka peluang kerja baru di sektor pertambangan dan kimia, serta mendorong inovasi teknologi pengolahan bahan kimia di dalam negeri.