histats

Misteri Perahu Kosong di Muara Opak: Nelayan Bantul Menghilang, Drone Thermal Digunakan dalam Pencarian

Misteri Perahu Kosong di Muara Opak: Nelayan Bantul Menghilang, Drone Thermal Digunakan dalam Pencarian

Setapak Langkah – 30 Maret 2026 | Muara Sungai Opak, Bantul – Sebuah perahu getek berisi jaring ikan dan sepeda motor ditemukan terdampar di tepi barat muara pada Sabtu dini hari, 28 Maret 2026. Pemiliknya, seorang nelayan berusia 30 tahun bernama Yunanta, tidak kembali ke rumah meski sudah dijanjikan akan kembali setelah menjaring ikan. Hingga kini, pencarian masih berlangsung dengan melibatkan empat unit gabungan SAR darat, laut, dan udara serta teknologi drone thermal yang diharapkan dapat menemukan jejak korban di perairan dan vegetasi pantai.

Kronologi Kejadian

Menurut saksi mata, sekitar pukul 02.00 WIB Yunanta berpamitan kepada keluarga dan meninggalkan rumah untuk menebar jaring di area muara. Rutinitas ini biasa dilakukan setiap hari, namun pada hari itu tidak ada tanda-tanda keberangkatan yang berbeda. Tiga jam kemudian, pada pukul 05.00 WIB, seorang warga yang sedang berjalan di sekitar muara menemukan perahu getek milik Yunanta terdampar dengan jaring ikan melilit dan sepeda motor terparkir di sampingnya. Tidak ada tanda-tanda orang di dalam atau di sekitar perahu.

Setelah peristiwa tersebut, keluarga menunggu kepulangan anaknya hingga sore hari. Pada pukul 16.00 WIB, belum ada kabar, sehingga warga sekitar bersama keluarga mulai melakukan pencarian informal di sepanjang pantai dan area perairan. Pada pukul 17.00 WIB, pencarian warga masih belum menemukan Yunanta, sehingga mereka melaporkan kejadian ke pihak berwenang.

Upaya Pencarian SAR

Pada hari ketiga pencarian, Senin 30 Maret 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Basarnas Yogyakarta mengerahkan empat satuan respon (SRU) untuk menyisir area secara sistematis. SRU pertama menggunakan perahu karet menelusuri jalur laut dari titik terakhir korban terlihat (LKP) ke arah utara. SRU dua dan tiga beroperasi di darat, menyisir tepi pantai ke timur dan barat masing-masing, dengan bantuan relawan lokal.

SRU keempat bertugas dari udara dengan mengoperasikan drone thermal. Drone ini dilengkapi sensor inframerah yang dapat mendeteksi perbedaan suhu pada permukaan air dan vegetasi, sehingga dapat mengidentifikasi keberadaan tubuh manusia yang terendam atau terperangkap di antara pepohonan mangrove. Radius pencarian diperkirakan mencakup 500 meter dari LKP, dengan pola terbang melingkar untuk memastikan tidak ada area yang terlewat.

Teknologi Drone Thermal dalam Penyelamatan

Penggunaan drone thermal menandai langkah maju dalam operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) di wilayah Yogyakarta. Teknologi ini memungkinkan tim SAR melihat suhu tubuh manusia yang berbeda signifikan dari suhu air atau tanah, bahkan pada kondisi gelap atau kabut. Selama operasi, drone melakukan pemindaian berulang kali, mengirimkan data visual ke pusat komando, di mana operator menganalisis citra termal secara real time.

Meski belum menghasilkan penemuan korban hingga saat ini, pihak SAR menyatakan bahwa drone meningkatkan efisiensi pencarian dibandingkan metode tradisional. “Drone thermal memberikan gambaran yang lebih jelas tentang area yang harus difokuskan, terutama di zona muara yang luas dan berombak,” ujar Pipit Eriyanto, Kepala Pusat Operasi SAR Basarnas Yogyakarta.

Reaksi Keluarga dan Masyarakat

Keluarga Yunanta tampak gelisah namun tetap optimis. Ibu korban menyatakan, “Kami percaya Yunanta masih hidup, karena ia selalu kembali setelah menebar ikan. Kami berharap tim SAR dapat menemukan jejaknya.” Warga sekitar juga aktif membantu dengan menyediakan perahu, lampu senter, dan makanan bagi relawan.

Beberapa tokoh masyarakat menekankan pentingnya keselamatan nelayan di perairan muara yang rawan arus kuat. “Kita perlu meninjau kembali prosedur keselamatan, termasuk penggunaan jaket pelampung dan peralatan komunikasi darurat,” kata Ketua RT setempat.

Prospek Penyelidikan dan Langkah Selanjutnya

Jika pencarian dengan drone thermal dan unit darat serta laut tidak membuahkan hasil dalam 48 jam ke depan, pihak berwenang berencana memperluas area pencarian hingga ke bagian hulu Sungai Opak. Selain itu, tim forensik laut akan melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan kapal atau arus kuat yang menenggelamkan perahu.

Penggunaan teknologi tambahan seperti sonar bawah air dan kamera beresolusi tinggi juga dipertimbangkan untuk mendeteksi sisa-sisa perahu yang mungkin tenggelam di dasar sungai. Semua upaya diarahkan pada satu tujuan utama: mengembalikan Yunanta pulang selamat kepada keluarga.

Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bagi para nelayan di wilayah muara untuk selalu memperhatikan kondisi cuaca, arus, dan perlengkapan keselamatan. Pihak berwenang berharap kejadian serupa dapat diminimalisir melalui edukasi dan penyediaan peralatan yang memadai.

Avatar for Setapak Langkah
Setapak Langkah Portal setapak langkah lahir untuk mengajak semua orang menikmati keindahan bumi pertiwi. Mulai dari Wisata alamnya yang manakjubkan, situs wisata sejarah yang penuh makna dan kuliner-kuliner nusantara yang nikmat rasanya.
Avatar for Setapak Langkah
Setapak Langkah Portal setapak langkah lahir untuk mengajak semua orang menikmati keindahan bumi pertiwi. Mulai dari Wisata alamnya yang manakjubkan, situs wisata sejarah yang penuh makna dan kuliner-kuliner nusantara yang nikmat rasanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *