histats

Guru Besar Unpad Ungkap Risiko Perang Darat AS‑Iran: Potensi Eskalasi Besar di Timur Tengah

Guru Besar Unpad Ungkap Risiko Perang Darat AS‑Iran: Potensi Eskalasi Besar di Timur Tengah

Setapak Langkah – 30 Maret 2026 | Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memuncak sejak akhir Februari lalu, ketika serangan balasan Iran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz menambah kekhawatiran akan konflik yang meluas. Di tengah situasi yang rapuh, seorang guru besar Fakultas Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) menyampaikan analisis mendalam tentang kemungkinan terjadinya perang darat antara kedua negara dan konsekuensi eskalasi yang dapat meluas ke kawasan Timur Tengah.

Latar Belakang Ketegangan

Iran menanggapi sanksi dan serangan udara Israel yang didukung Amerika Serikat dengan menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengalirkan sekitar seperempat produksi minyak dunia. Meskipun Presiden Amerika Serikat telah memberi ultimatum kepada Tehran, Washington belum melancarkan operasi militer besar untuk membuka kembali selat tersebut. Keputusan ini dipengaruhi oleh pertimbangan strategis yang kompleks, termasuk kebutuhan untuk menahan program nuklir dan rudal balistik Iran serta mengatasi jaringan proksi Tehran.

Analisis Guru Besar Unpad

Menurut Profesor Dr. Ahmad Fauzi, guru besar Unpad yang mengkhususkan diri pada hubungan internasional, risiko perang darat antara AS dan Iran bukan sekadar spekulasi. “Jika Amerika Serikat memutuskan untuk mengerahkan pasukan darat ke wilayah pantai Iran, hal itu akan menandakan eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya dalam sebuah wawancara. Fauzi menekankan bahwa operasi darat memerlukan kontrol atas wilayah geografis yang luas, termasuk pangkalan militer, jaringan logistik, dan keamanan pasokan. “Tanpa kehadiran pasukan darat yang stabil, setiap intervensi militer akan bersifat sementara dan berisiko tinggi,” tambahnya.

Fauzi juga menyoroti bahwa Iran memiliki kemampuan pertahanan asimetris yang kuat, seperti penggunaan drone, rudal anti-kapal, serta ranjau laut. Kemampuan ini dapat menimbulkan kerugian signifikan bagi pasukan AS yang terjun ke darat. “Strategi Iran yang mengandalkan serangan cepat dan tersembunyi dapat menghambat operasi konvensional Amerika, memperpanjang konflik dan memperbesar kemungkinan keterlibatan negara lain,” jelasnya.

Mengapa AS Menghindari Operasi Darat di Selat Hormuz

Sejumlah analis militer, termasuk Jennifer Parker yang dikutip dalam laporan The Independent, mengungkapkan bahwa membuka Selat Hormuz secara militer bukan sekadar menempatkan kapal perang di perairan. Pengamanan selat memerlukan kontrol atas daratan di sekitarnya, terutama garis pantai Iran yang menjadi basis serangan. Pengalihan sumber daya untuk mengamankan selat berarti mengurangi fokus pada target strategis utama seperti program nuklir dan jaringan misil Iran.

Setiap konvoi kapal dagang yang dilindungi oleh satu hingga dua kapal perang AS menuntut penempatan lebih dari 200 personel per kapal. Risiko serangan dari drone, rudal, atau kapal tak berawak Iran meningkatkan potensi korban di pihak Amerika. Selain itu, Iran dapat menebar persepsi bahaya dengan menebarkan ranjau laut, yang meskipun belum dipasang secara luas, dapat menghalangi lalu lintas perdagangan selama berbulan-bulan.

Dampak Potensial Bagi Keamanan Regional

Jika konflik beralih ke medan darat, konsekuensi geopolitik dapat meluas ke negara-negara tetangga seperti Pakistan, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Pakistan, yang baru-baru ini menyelenggarakan pembicaraan gencatan, berpotensi menjadi arena diplomatik atau bahkan militer tambahan. Fauzi memperingatkan bahwa keterlibatan negara lain dapat memperparah ketegangan, memicu krisis energi global, serta menimbulkan gelombang migrasi akibat ketidakstabilan.

Di sisi ekonomi, gangguan pada Selat Hormuz dapat menurunkan pasokan minyak dunia hingga 5‑7 juta barel per hari, memicu lonjakan harga energi dan mempengaruhi pasar global. Sektor transportasi laut juga akan mengalami kerugian besar karena peningkatan biaya asuransi dan kebutuhan pengawalan militer yang intensif.

Strategi Alternatif yang Dapat Diambil

  • Memperkuat diplomasi multilateral melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi regional untuk menekan Tehran secara politik.
  • Meningkatkan kemampuan intelijen dan serangan siber guna melemahkan infrastruktur militer Iran tanpa melibatkan pasukan darat.
  • Menjalin koalisi dengan sekutu regional untuk menyediakan pengawalan konvoi kapal dagang secara bersama-sama, mengurangi beban satu negara.
  • Melanjutkan tekanan ekonomi melalui sanksi yang ditargetkan, sambil membuka jalur alternatif transportasi energi.

Kesimpulannya, meskipun tekanan militer Amerika Serikat terhadap Iran terus meningkat, langkah menuju perang darat masih dipandang sebagai opsi yang berisiko tinggi. Analisis guru besar Unpad menegaskan bahwa eskalasi besar dapat mengancam stabilitas regional dan menimbulkan dampak ekonomi global yang signifikan. Oleh karena itu, pendekatan yang mengutamakan diplomasi, sanksi terarah, dan operasi non‑konvensional menjadi alternatif yang lebih realistis untuk meredam ketegangan tanpa memicu konflik berskala luas.

Avatar for Setapak Langkah
Setapak Langkah Portal setapak langkah lahir untuk mengajak semua orang menikmati keindahan bumi pertiwi. Mulai dari Wisata alamnya yang manakjubkan, situs wisata sejarah yang penuh makna dan kuliner-kuliner nusantara yang nikmat rasanya.
Avatar for Setapak Langkah
Setapak Langkah Portal setapak langkah lahir untuk mengajak semua orang menikmati keindahan bumi pertiwi. Mulai dari Wisata alamnya yang manakjubkan, situs wisata sejarah yang penuh makna dan kuliner-kuliner nusantara yang nikmat rasanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *