Setapak Langkah – 15 Mei 2026 | Nilai tukar yen Jepang belakangan ini berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan pembuat kebijakan. Depresiasi yang tajam dipicu oleh kombinasi kebijakan moneter yang longgar di Jepang, perbedaan suku bunga dengan Amerika Serikat, serta sentimen risiko global.
Pemerintah Jepang kini mempertimbangkan langkah intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan yen. Menurut sumber resmi, otoritas moneter Jepang bersiap menggunakan cadangan devisa guna membeli yen secara signifikan, sebuah tindakan yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2022.
Langkah tersebut mendapat dorongan baru dari Washington. Pemerintah Amerika Serikat, melalui pernyataan pejabat senior Departemen Keuangan, menyatakan dukungan terhadap upaya stabilisasi mata uang utama dunia, termasuk yen, untuk menghindari distorsi perdagangan yang berlebihan.
Berikut adalah perkiraan nilai tukar yen terhadap dolar Amerika Serikat selama enam bulan terakhir:
| Bulan | USD/JPY |
|---|---|
| Desember 2023 | 145,30 |
| Januari 2024 | 148,20 |
| Februari 2024 | 150,75 |
| Maret 2024 | 152,10 |
| April 2024 | 154,45 |
| Mei 2024 | 156,80 |
Data tersebut menunjukkan tren pelemahan berkelanjutan, yang dapat menambah tekanan pada sektor ekspor Jepang sekaligus meningkatkan biaya impor, terutama bagi barang-barang energi.
Beberapa skenario kebijakan yang mungkin diambil oleh Bank of Japan (BOJ) meliputi:
- Pembelian yen dalam skala besar melalui pasar spot.
- Koordinasi dengan bank sentral lain, termasuk Federal Reserve, untuk sinkronisasi kebijakan moneter.
- Peningkatan suku bunga jangka pendek sebagai sinyal pengetatan.
Jika intervensi berhasil, dampaknya dapat meliputi penguatan yen dalam jangka pendek, perbaikan neraca perdagangan, serta penurunan volatilitas pasar valuta asing. Namun, risiko yang harus diwaspadai meliputi potensi eskalasi persaingan devaluasi antarnegara dan beban pada cadangan devisa Jepang.
Pengamat pasar menekankan bahwa keberhasilan intervensi sangat bergantung pada konsistensi kebijakan domestik Jepang serta keberlanjutan dukungan dari Amerika Serikat. Keputusan akhir akan menjadi penentu arah pasar mata uang global dalam beberapa bulan mendatang.