Setapak Langkah – 24 Juli 2026 | Asosiasi Perkebunan Dan Perkebunan (BPDP) kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat industri kelapa sawit yang ramah lingkungan sekaligus inklusif bagi semua gender. Melalui serangkaian program strategis, BPDP berupaya menciptakan rantai nilai yang tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga meningkatkan partisipasi perempuan di setiap tingkat produksi.
Keberlanjutan dalam sektor sawit menjadi krusial karena Indonesia menyumbang lebih dari 50% produksi dunia. Praktik pertanian yang tidak terkendali dapat menimbulkan deforestasi, kehilangan keanekaragaman hayati, dan konflik sosial. Dengan mengintegrasikan standar ESG (Environmental, Social, Governance), industri dapat mempertahankan daya saing global sekaligus melindungi hak-hak petani.
Baru-baru ini BPDP meluncurkan Pedoman Pengarusutamaan Gender (PUG) yang berfungsi sebagai acuan bagi perusahaan perkebunan dalam menanamkan perspektif gender pada kebijakan operasional. Pedoman ini menekankan empat pilar utama: (1) rekrutmen dan promosi yang adil, (2) akses pelatihan teknis khusus perempuan, (3) kebijakan kesejahteraan keluarga, dan (4) mekanisme pengawasan berbasis data.
- Pelatihan teknis: workshop bulanan tentang manajemen kebun, penggunaan alat modern, dan sertifikasi organik khusus untuk petani perempuan.
- Program mentor: penempatan mentor senior perempuan bagi usaha mikro yang dikelola oleh wanita.
- Sertifikasi inklusif: audit independen menilai kepatuhan gender sebelum pemberian label berkelanjutan.
- Pembiayaan mikro: kerja sama dengan lembaga keuangan untuk menyediakan kredit dengan bunga rendah bagi perempuan petani.
Berikut adalah target representasi gender yang diharapkan BPDP capai dalam lima tahun ke depan:
| Tahun | Persentase Karyawan Perempuan | Persentase Manajer Perempuan |
|---|---|---|
| 2024 | 35% | 12% |
| 2026 | 45% | 20% |
| 2029 | 55% | 30% |
Dengan langkah‑langkah tersebut, BPDP berharap industri kelapa sawit Indonesia tidak hanya memenuhi standar internasional dalam hal keberlanjutan lingkungan, tetapi juga menjadi contoh dalam menciptakan kesetaraan kesempatan kerja bagi perempuan. Transformasi ini diyakini akan meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin global dalam produksi kelapa sawit yang berkelanjutan.