Setapak Langkah – 04 April 2026 | Survei terbaru yang dilakukan oleh Gallup mengungkap pergeseran persepsi publik internasional terhadap dua negara paling berpengaruh, China dan Amerika Serikat (AS), dalam hal kepemimpinan global. Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas responden di seluruh dunia kini lebih mempercayai China sebagai pemimpin dunia dibandingkan AS.
Rincian Persetujuan Berdasarkan Wilayah
| Wilayah | China (%) | AS (%) |
|---|---|---|
| Asia Tenggara | 62 | 35 |
| Asia Barat | 55 | 38 |
| Eropa Barat | 48 | 52 |
| Amerika Utara | 40 | 70 |
| Afrika Sub-Sahara | 60 | 30 |
Data menunjukkan bahwa keunggulan China paling menonjol di Asia Tenggara, Asia Barat, dan Afrika Sub-Sahara, sementara di Amerika Utara dan sebagian Eropa Barat AS masih memegang mayoritas kepercayaan.
Faktor-faktor yang Mendorong Pergeseran
- Pembangunan Ekonomi yang Konsisten: Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China yang stabil selama dua dekade terakhir meningkatkan citra kemampuan ekonomi negara tersebut.
- Kebijakan Luar Negeri Aktif: Inisiatif seperti Belt and Road Initiative (BRI) memperluas jaringan diplomatik dan investasi China di negara‑negara berkembang.
- Ketidakpuasan Terhadap Kebijakan AS: Kebijakan perdagangan proteksionis, penarikan dari perjanjian internasional, dan peran militer yang dipandang agresif menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap AS.
- Komunikasi Publik yang Efektif: Pemerintah China secara intensif memanfaatkan media digital untuk menyebarkan narasi keberhasilan pembangunan dan stabilitas.
Selain faktor struktural, dinamika geopolitik pasca‑pandemi Covid‑19 juga memperkuat citra China sebagai negara yang mampu mengatasi krisis dengan relatif cepat, meskipun ada kritik internasional terkait transparansi.
Reaksi dan Implikasi Politik
Para pengamat politik menilai bahwa perubahan persepsi ini dapat memengaruhi aliansi internasional, terutama di negara‑negara berkembang yang kini lebih terbuka terhadap kerja sama dengan Beijing. Di sisi lain, pemerintah AS diperkirakan akan menyesuaikan strategi diplomasi publiknya untuk memperbaiki citra global, termasuk meningkatkan bantuan luar negeri dan memperkuat kerja sama multilateral.
Secara jangka panjang, pergeseran ini menandakan perlunya kedua negara untuk berkompetisi tidak hanya dalam bidang militer atau ekonomi, tetapi juga dalam memenangkan hati dan pikiran masyarakat dunia. Bagaimana respons kebijakan masing‑masing akan menjadi faktor kunci dalam menentukan pola hubungan internasional di dekade berikutnya.