Setapak Langkah – 07 Mei 2026 | Rusia mencatat lonjakan signifikan pada pendapatan ekspor minyak melalui jalur laut, mencapai sekitar Rp42 triliun per minggu. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022.
Kenaikan tersebut dipicu oleh krisis yang terjadi di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Ketegangan geopolitik di wilayah tersebut menghambat aliran minyak dari negara-negara produsen Timur Tengah, sehingga pembeli internasional beralih ke sumber alternatif, termasuk Rusia.
Seiring berkurangnya pasokan minyak dari Iran dan Uni Emirat Arab, permintaan akan minyak Rusia meningkat. Pemerintah Rusia memanfaatkan situasi dengan meningkatkan volume ekspor serta menyesuaikan rute pengiriman ke pelabuhan-pelabuhan di Asia dan Eropa.
Berikut merupakan perbandingan pendapatan ekspor minyak Rusia dalam tiga bulan terakhir:
| Bulan | Pendapatan Ekspor (Rp Triliun) |
|---|---|
| Januari 2024 | 35 |
| Februari 2024 | 38 |
| Maret 2024 | 42 |
Data tersebut menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten, meskipun pasar minyak global masih dipengaruhi oleh fluktuasi harga dan kebijakan sanksi. Meskipun demikian, peningkatan pendapatan ini memberikan dukungan fiskal bagi pemerintah Rusia, terutama dalam menutupi biaya operasional militer dan program sosial domestik.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa keuntungan jangka pendek Rusia dari situasi di Selat Hormuz bersifat sementara. Jika ketegangan mereda atau jika produsen minyak Timur Tengah berhasil mengembalikan pasokan, Rusia dapat kehilangan keunggulan kompetitifnya. Selain itu, tekanan sanksi Barat tetap menjadi tantangan utama bagi industri energi Rusia.
Di sisi lain, negara-negara pembeli, khususnya di Asia, mendapatkan keuntungan dari diversifikasi sumber minyak. Hal ini memperkuat posisi Rusia sebagai pemasok energi alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik.