Setapak Langkah – 12 April 2026 | Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyoroti salah satu tantangan utama yang dihadapi Indonesia, yaitu kecenderungan ego berlebih di kalangan pemimpin. Dalam sebuah acara diskusi kebijakan publik, ia mengingatkan bahwa ego yang terlalu besar dapat menghambat proses pengambilan keputusan yang objektif dan mengedepakan kepentingan bersama.
Pramono menegaskan bahwa ego berlebih bukan hanya menjadi persoalan pribadi, melainkan telah menular ke dalam budaya kepemimpinan nasional. Menurutnya, sikap ini sering kali menutup ruang dialog, memperkuat sikap otoriter, serta menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi negara.
- Kurangnya rasa empati: Pemimpin yang terlalu mengutamakan ego cenderung mengabaikan aspirasi rakyat.
- Pengambilan keputusan sepihak: Keputusan penting sering dibuat tanpa konsultasi luas, mengakibatkan kebijakan yang kurang efektif.
- Penurunan akuntabilitas: Ego yang menguat membuat pemimpin enggan mengakui kesalahan atau belajar dari kritik.
Ia mengajak semua pihak, mulai dari pejabat tinggi hingga aktivis masyarakat, untuk menumbuhkan sikap rendah hati, mendengarkan kritik konstruktif, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Pramono menutup pidatonya dengan harapan bahwa perubahan budaya kepemimpinan dapat mempercepat pencapaian visi Indonesia maju, berdaulat, dan berkepribadian kuat.