Setapak Langkah – 02 April 2026 | PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung pada Senin (31 Maret 2026) mengevakuasi seluruh penumpang kereta api Ciremai yang melayani rute Semarang Tawang‑Bandung setelah terjadi longsor di daerah Maswati‑Sasaksaat, Kabupaten Sukabumi. Longsor tersebut menutup sebagian rel utama dan menghalangi akses jalur kereta, sehingga kereta yang sedang melintas terpaksa berhenti di stasiun Cilejit.
Setelah mendapatkan laporan dari tim inspeksi lapangan, petugas KAI mengkoordinasikan evakuasi menggunakan lima unit bus antar‑jemput milik perusahaan. Total 312 penumpang berhasil dipindahkan ke bus dan dibawa ke stasiun terdekat untuk menunggu layanan pengganti. Proses evakuasi selesai dalam waktu kurang lebih dua jam, dengan bantuan aparat kepolisian, Satpol PP, dan relawan setempat.
Rincian evakuasi
- Jumlah penumpang yang berada di dalam KA Ciremai pada saat kejadian: 312 orang.
- Jumlah bus yang digunakan: 5 unit, masing‑masing berkapasitas 70–80 penumpang.
- Waktu penundaan layanan kereta: sekitar 3,5 jam.
- Jalur alternatif yang disiapkan: kereta pengganti dari Stasiun Semarang Tawang ke Stasiun Bandung via jalur selatan.
Direktur Operasi Daop 2 Bandung, Irwan Suryadi, menyatakan bahwa prioritas utama adalah keselamatan penumpang. Ia menambahkan bahwa tim teknik KAI telah melakukan inspeksi menyeluruh pada area longsor dan memastikan tidak ada bahaya lanjutan sebelum layanan kereta dapat dilanjutkan.
Pihak berwenang setempat juga menutup sementara jalan lintas Maswati‑Sasaksaat untuk mencegah kendaraan masuk ke zona berisiko. Tim SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukabumi terus memantau kondisi tanah dan menyiapkan peralatan tambahan bila diperlukan.
Kereta Ciremai dijadwalkan berangkat kembali pada pukul 16.30 WIB dengan susunan kereta yang sama, setelah rel dibersihkan dan dipastikan aman. Penumpang yang mengalami keterlambatan dapat mengajukan klaim penggantian tiket melalui layanan pelanggan KAI.
Kejadian ini menambah daftar insiden yang mengganggu jaringan kereta api di wilayah Jawa Barat pada awal tahun 2026, termasuk banjir di daerah Cirebon dan tanah longsor di daerah Ciamis. Pihak KAI berjanji akan meningkatkan monitoring geologi dan melakukan kerja sama lebih intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengantisipasi bencana alam yang dapat mengancam operasi kereta.