Setapak Langkah – 13 Mei 2026 | Menjelang akhir Maret 2025, alur Pelabuhan Pulau Baai di Bengkulu mengalami penutupan total akibat tumpukan pasir yang menghalangi jalur masuk kapal. Penutupan ini menimbulkan guncangan signifikan pada aktivitas ekonomi di wilayah sekitarnya, terutama sektor logistik, perikanan, dan perdagangan komoditas lokal.
Penutupan terjadi setelah inspeksi rutin menemukan akumulasi pasir yang mencapai lebih dari tiga meter di dasar pelabuhan, mengakibatkan kedalaman air tidak memenuhi standar minimum operasional. Upaya pembersihan awal gagal mengurangi hambatan, sehingga otoritas memutuskan untuk menutup alur demi keselamatan pelayaran.
Berikut adalah ringkasan dampak ekonomi yang teridentifikasi selama tiga bulan pertama setelah penutupan:
| Periode | Volume Muatan (ton) |
|---|---|
| Jan–Feb 2025 | 1.200 |
| Mar 2025 (sebelum tutup) | 1.150 |
| Apr–Jun 2025 (setelah tutup) | 400 |
Penurunan volume muatan sebesar lebih dari 60% berdampak pada penurunan pendapatan daerah, dengan perkiraan kerugian fiskal mencapai Rp 150 miliar dalam kuartal pertama pasca penutupan. Sektor perikanan tradisional juga mengalami penurunan hasil tangkap karena kapal penangkap ikan tidak dapat mengakses pelabuhan untuk bongkar muat dan perbekalan.
Pemerintah Provinsi Bengkulu segera merespons dengan menyusun rencana pengerukan skala besar dan mempercepat alokasi dana melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta bantuan dari Pemerintah Pusat. Tim teknis yang dipimpin oleh Dinas Perhubungan menargetkan penyelesaian pengerukan dalam enam minggu, dengan harapan alur dapat dibuka kembali paling lambat pertengahan Juli 2025.
Selain pengerukan, langkah mitigasi lain meliputi:
- Peningkatan kapasitas dermaga alternatif di Pelabuhan Air Napal untuk mengalihkan sebagian trafik sementara.
- Pemberian subsidi bahan bakar bagi kapal nelayan yang terdampak, guna menstabilkan pendapatan sektor perikanan.
- Pelatihan ulang bagi pekerja pelabuhan dalam prosedur darurat dan pengelolaan sedimentasi.
Para pelaku usaha dan masyarakat setempat mengharapkan transparansi dalam proses pengerukan serta komitmen pemerintah untuk memperkuat infrastruktur pelabuhan agar kejadian serupa tidak terulang. Jika penanganan berjalan sesuai rencana, diharapkan pelabuhan kembali beroperasi pada level pra-penutupan pada kuartal ketiga 2025, membawa kembali aliran barang dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.