Setapak Langkah – 06 Mei 2026 | Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni, menegaskan bahwa kehadiran film-film Indonesia dalam program La Semaine de la Critique di Festival Film Cannes tahun ini menjadi bukti nyata peningkatan posisi industri perfilman tanah air di kancah internasional.
Program La Semaine de la Critique menampilkan sejumlah film pendek dan fitur yang dipilih secara ketat oleh kurator internasional. Pada edisi kali ini, empat karya Indonesia berhasil lolos seleksi, antara lain:
- “Mimpi di Balik Jendela” – drama sosial yang mengangkat isu migrasi pekerja.
- “Sisi Gelap Kota” – thriller psikologis yang memadukan estetika noir dengan latar Jakarta.
- “Rasa Rindu” – film pendek dokumenter tentang tradisi kuliner nusantara.
- “Cahaya di Ujung Jalan” – cerita coming‑of‑age yang menyoroti dinamika generasi milenial.
Keempat film tersebut menerima pujian kritis dan beberapa di antaranya mendapatkan penghargaan khusus, seperti “Best Short Film” untuk “Rasa Rindu”. Keberhasilan ini, kata Zidni, menegaskan bahwa kualitas naratif dan produksi Indonesia kini sejalan dengan standar festival kelas dunia.
Selain manfaat artistik, Zidni menyoroti dampak ekonomi yang signifikan. Partisipasi di Cannes meningkatkan peluang penjualan hak distribusi, baik di platform streaming maupun bioskop internasional. Data yang dirilis BPI menunjukkan peningkatan 25 % dalam penjualan lisensi film Indonesia selama tiga tahun terakhir, sebagian besar dipicu oleh eksposur di festival bergengsi.
Untuk memaksimalkan peluang tersebut, BPI berencana memperkuat program pendampingan bagi pembuat film, termasuk workshop pendanaan, bimbingan pemasaran internasional, serta jaringan dengan agen penjualan global. “Kami ingin menjadikan Cannes bukan sekadar ajang pamer, melainkan pintu gerbang bagi sinema Indonesia menuju pasar dunia,” tutup Fauzan Zidni.