Setapak Langkah – 03 April 2026 | Pakar lingkungan Universitas Mulawarman, Prof. Esti Handayani Hardim, meluncurkan inisiatif baru bernama “Sekolah Lapang” yang ditujukan untuk memperkuat ketahanan iklim di wilayah pesisir Kalimantan Timur. Program ini dirancang sebagai serangkaian pelatihan lapangan bagi masyarakat, nelayan, dan pejabat daerah guna meningkatkan pemahaman dan tindakan konkret dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Berangkat dari data terbaru yang menunjukkan peningkatan suhu rata‑rata, naiknya permukaan laut, serta frekuensi badai tropis yang lebih intens, Prof. Esti menekankan perlunya pendekatan yang menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kearifan lokal. “Kita tidak dapat lagi menunggu kebijakan jangka panjang saja; aksi di tingkat komunitas harus dimulai segera,” ujarnya dalam konferensi pers di Balikpapan.
Program Sekolah Lapang akan dilaksanakan selama enam bulan, terbagi menjadi tiga fase utama:
- Fase I – Pengukuran dan Pemetaan: Tim peneliti bersama relawan lokal akan melakukan survei kondisi pantai, mengukur erosi, dan memetakan wilayah rawan banjir menggunakan perangkat GPS dan drone.
- Fase II – Pendidikan dan Pelatihan: Modul pelatihan mencakup teknik konservasi mangrove, pembangunan infrastruktur hijau, serta penggunaan aplikasi pemantauan cuaca berbasis Android.
- Fase III – Implementasi dan Evaluasi: Komunitas akan menerapkan solusi yang telah dipelajari, seperti penanaman kembali mangrove dan pembuatan tanggul alami, sambil memantau efektivitasnya melalui indikator lingkungan.
Selain itu, program ini akan melibatkan lembaga pemerintah daerah, LSM, serta sektor swasta yang memiliki kepentingan dalam pengelolaan sumber daya laut. Pendanaan awal sebesar Rp 2,5 miliar telah disetujui oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, dengan harapan dapat menurunkan risiko kerusakan ekosistem pesisir hingga 30 % dalam lima tahun ke depan.
Para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang menyebarkan praktik terbaik kepada desa‑desa tetangga. Sebagai contoh, nelayan di Kabupaten Berau yang mengikuti pelatihan pertama melaporkan peningkatan hasil tangkapan sebesar 12 % setelah mengadopsi teknik penanaman mangrove yang membantu menstabilkan habitat ikan.
Program Sekolah Lapang ini merupakan bagian dari strategi lebih luas Universitas Mulawarman untuk mengintegrasikan penelitian akademik dengan aksi sosial. Jika berhasil, model ini dapat direplikasi di daerah pesisir lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa.