Setapak Langkah – 08 Mei 2026 | Kerjasama ekonomi antara Indonesia dan China terus menguat, terlihat dari peningkatan nilai perdagangan selama kuartal pertama tahun 2026. Menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perdagangan, total transaksi perdagangan bilateral mencapai US$ 30,2 miliar, naik 16 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan ekspor Indonesia ke China, terutama produk komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, dan produk elektronik. Sementara impor Indonesia dari China didominasi oleh mesin-mesin industri, bahan baku kimia, dan barang konsumsi.
| Komponen | Q1 2025 (US$ miliar) | Q1 2026 (US$ miliar) | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Ekspor Indonesia ke China | 12,4 | 14,5 | +16,9% |
| Impor Indonesia dari China | 16,8 | 15,7 | -6,5% |
| Total Perdagangan | 29,2 | 30,2 | +3,4% |
Walaupun total nilai perdagangan naik 16 persen, pertumbuhan utama datang dari ekspor, sedangkan impor mengalami penurunan kecil karena penyesuaian kebijakan impor dan diversifikasi sumber pasokan.
- Indonesia menargetkan surplus perdagangan dengan China sebesar US$ 2 miliar pada akhir 2026.
- Kedua negara berencana memperluas kerja sama di bidang teknologi hijau dan infrastruktur digital.
- Penguatan rantai pasok logistik di pelabuhan-pelabuhan utama di kedua negara menjadi prioritas untuk mempercepat arus barang.
Pemerintah Indonesia menilai peningkatan ini sebagai bukti keberhasilan program “Made in Indonesia” yang mendorong produsen lokal untuk menembus pasar China. Sementara China menyatakan komitmen untuk terus menjadi mitra dagang utama Indonesia, khususnya dalam penyediaan teknologi dan bahan baku strategis.
Para pengamat ekonomi memperkirakan bahwa jika tren pertumbuhan ini berlanjut, nilai perdagangan bilateral dapat melampaui US$ 35 miliar pada akhir tahun 2026, memperkuat posisi kedua negara sebagai kekuatan ekonomi utama di kawasan Asia‑Pasifik.