Setapak Langkah – 10 Mei 2026 | Ejae, anggota grup K‑Pop Demon Hunters, mengungkapkan bahwa proses menulis lagu menjadi kunci utama dalam memulihkan dirinya dari depresi yang melanda setelah gagal mewujudkan impian menjadi idol.
Setelah mengikuti audisi dan pelatihan intensif, Ejae harus menelan kekecewaan ketika tidak terpilih menjadi anggota tetap sebuah agensi besar. Rasa putus asa dan tekanan industri membuatnya mengalami gejala depresi, termasuk kehilangan motivasi, gangguan tidur, dan perasaan tidak berharga.
Berbagai upaya pengobatan konvensional, seperti konseling dan terapi, memberikan hasil yang terbatas. Pada suatu malam, Ejae menemukan sebuah buku catatan kosong dan memutuskan menuliskan perasaannya dalam bentuk lirik. Tindakan sederhana itu membuka pintu kreativitas yang selama ini terpendam.
Langkah-langkah Ejae dalam menulis lagu sebagai terapi
- Mengidentifikasi emosi: Ejae menuliskan semua rasa sakit, keraguan, dan harapan yang muncul di kepalanya.
- Mengubah kata menjadi melodi: Ia menciptakan nada sederhana yang menyesuaikan dengan mood tiap bait.
- Menulis secara rutin: Setiap hari ia meluangkan satu jam khusus untuk menulis, meski hanya satu baris.
- Berbagi dengan rekan: Lagu‑lagu yang selesai dibagikan kepada anggota grup dan produser, yang memberikan umpan balik positif.
- Menggunakan lagu sebagai panggung: Saat pertunjukan, Ejae menyanyikan kreasi sendiri, yang memberi rasa pencapaian dan pengakuan diri.
Proses tersebut tidak hanya membantu Ejae mengurai pikiran negatif, tetapi juga memperkuat rasa identitasnya sebagai artis yang memiliki suara unik. Menulis lirik memberi ruang untuk “menyuarakan apa yang tak dapat diungkapkan dengan kata‑kata biasa”.
Sejak itu, beberapa lagu yang ia tulis telah dirilis dalam album Demon Hunters, mendapatkan respon positif dari penggemar. Reaksi tersebut memperkuat kepercayaan dirinya dan mengurangi rasa bersalah atas kegagalan sebelumnya.
Para pakar kesehatan mental menilai bahwa aktivitas kreatif, seperti menulis musik, dapat memicu pelepasan neurotransmiter serotonin dan dopamin, yang berperan dalam memperbaiki suasana hati. Kasus Ejae menjadi contoh nyata bagaimana seni dapat berfungsi sebagai terapi komplementer.
Ke depannya, Ejae berencana terus mengembangkan kemampuan menulis lagunya, tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk membantu rekan‑rekan yang menghadapi tekanan serupa. Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi banyak orang untuk menemukan jalan keluar melalui kreativitas.