Setapak Langkah – 12 April 2026 | Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, mengeluarkan pernyataan kritis terhadap perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dikeluarkan oleh World Bank. Proyeksi tersebut menurunkan estimasi pertumbuhan pada tahun 2026 menjadi 4,7 persen, jauh di bawah harapan pemerintah.
Berikut rangkuman singkat proyeksi World Bank yang dipertanyakan:
| Tahun | Proyeksi Pertumbuhan |
|---|---|
| 2025 | 5,2 % |
| 2026 | 4,7 % |
Pernyataan Menteri Keuangan menimbulkan beragam reaksi di kalangan ekonom dan pelaku pasar. Sebagian menganggap bahwa faktor eksternal seperti tekanan inflasi global, volatilitas harga komoditas, dan kondisi geopolitik dapat memengaruhi penurunan pertumbuhan. Namun, Purbaya menekankan bahwa data makroekonomi domestik menunjukkan fundamental yang masih kuat, termasuk penurunan tingkat pengangguran dan peningkatan investasi domestik.
Dalam rapat internal Kementerian Keuangan, Purbaya menugaskan tim analis untuk meninjau metodologi yang dipakai World Bank. Ia menegaskan pentingnya transparansi dan akurasi data, mengingat proyeksi tersebut sering dijadikan acuan oleh investor asing dan lembaga keuangan internasional.
Jika proyeksi World Bank tetap dipertahankan, implikasinya dapat meliputi:
- Peningkatan risiko penurunan arus investasi asing.
- Penyesuaian target kebijakan moneter oleh Bank Indonesia.
- Penguatan argumentasi pemerintah dalam forum internasional untuk menegosiasikan kembali asumsi makroekonomi.
Purbaya menutup dengan harapan bahwa dialog konstruktif antara pemerintah dan lembaga internasional akan menghasilkan estimasi yang lebih realistis dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan Indonesia.