Setapak Langkah – 08 Mei 2026 | Asus baru‑baru ini meluncurkan sebuah laptop premium dengan dua layar OLED beresolusi 3K, dibanderol hampir Rp55 juta. Produk ini diklaim mampu mengolah beban kerja kecerdasan buatan (AI) hingga 50 TOPS, menjanjikan performa yang belum pernah ada pada laptop konsumen.
Berikut rangkuman fitur utama yang diumumkan:
| Spesifikasi | Detail |
|---|---|
| Layar Utama | OLED 15,6 inci, resolusi 3K (3072×1728) |
| Layar Kedua | OLED 7,2 inci, resolusi 3K, dapat dipasang sebagai touchpad atau ekstensi |
| Prosesor | Intel Core i7‑13xxx atau setara AMD Ryzen 7 |
| GPU | NVIDIA RTX 4050 atau RTX 4060 |
| AI Accelerator | 50 TOPS (Tensor Core khusus) |
| RAM | 16 GB DDR5 |
| Penyimpanan | 1 TB NVMe SSD |
| Baterai | 80 Wh, dukungan pengisian cepat 100 W |
| Harga | Rp54.999.000 |
Harga hampir Rp55 juta menempatkan laptop ini pada segmen premium, bersaing langsung dengan workstation kelas atas. Namun, pertanyaan utama yang muncul adalah apakah kehadiran layar kedua dan kemampuan AI benar‑benar memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pengguna umum atau hanya menjadi gimmick belaka.
Kelebihan yang patut diperhatikan:
- Ruang kerja ekstra berkat layar sekunder, cocok untuk multitasking, desain grafis, atau pengembangan perangkat lunak.
- Panel OLED 3K memberikan warna akurat dan kontras tinggi, ideal untuk konten visual.
- AI accelerator 50 TOPS dapat mempercepat beban kerja seperti inferensi model machine learning, rendering AI‑enhanced, atau aplikasi kreatif berbasis AI.
Potensi kekurangan:
- Harga tinggi membuatnya tidak terjangkau bagi kebanyakan profesional dan pelajar.
- Layar kedua menambah berat dan ketebalan, mengurangi portabilitas.
- Manfaat AI accelerator terbatas pada aplikasi khusus; kebanyakan pengguna tidak akan merasakan perbedaan yang nyata.
Di pasar Indonesia, adopsi teknologi AI pada perangkat konsumen masih dalam tahap awal. Sebagian besar aplikasi AI masih berbasis cloud, sehingga manfaat dari akselerator lokal dapat terbatasi oleh keterbatasan perangkat lunak yang mendukungnya. Jika produsen perangkat lunak tidak menyediakan optimasi untuk hardware tersebut, investasi pada akselerator 50 TOPS dapat berakhir tidak terpakai.
Selain itu, persaingan dari laptop dengan satu layar namun spesifikasi tinggi, seperti model‑model Dell XPS atau Lenovo ThinkPad X1, menawarkan performa serupa dengan harga yang lebih bersahabat. Kedua perangkat ini juga telah memiliki ekosistem perangkat lunak yang matang.
Kesimpulannya, laptop dual‑layar ini memang membawa inovasi menarik dalam desain hardware, terutama bagi profesional kreatif yang membutuhkan ruang kerja visual ekstra. Namun, bagi kebanyakan konsumen, harga premium dan manfaat AI yang masih terbatas membuatnya terkesan sebagai gimmick yang belum sepenuhnya terbukti memberi keunggulan kompetitif.