Setapak Langkah – 04 Mei 2026 | Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menilai bahwa program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) telah memberikan kontribusi signifikan dalam menurunkan angka kemiskinan sekaligus memperkuat perekonomian daerah. Dalam sambutannya pada sebuah acara resmi, Khofifah menekankan bahwa BSPS tidak hanya sekadar memberikan bantuan perumahan, melainkan juga menjadi motor penggerak bagi sektor konstruksi, bahan bangunan, dan tenaga kerja lokal.
Sejak diluncurkan pada awal 2022, program BSPS telah berhasil membantu lebih dari 150 ribu keluarga warga Jawa Timur dalam mewujudkan rumah layak huni. Dengan skema pembiayaan yang bersifat subsidi dan cicilan ringan, program ini memungkinkan penerima manfaat untuk membangun atau merenovasi rumah secara mandiri, sambil memanfaatkan tenaga kerja serta material yang diproduksi di dalam provinsi.
Khofifah menambahkan bahwa dampak positif program ini dapat dilihat dari beberapa indikator utama:
- Peningkatan pendapatan rumah tangga – Keluarga yang memperoleh rumah melalui BSPS melaporkan rata‑rata peningkatan pendapatan sebesar 12‑15% berkat aktivitas pembangunan dan renovasi.
- Penurunan tingkat kemiskinan – Data Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi menunjukkan penurunan persentase kemiskinan dari 12,4% pada 2021 menjadi 10,8% pada akhir 2023.
- Peningkatan produksi bahan bangunan lokal – Produsen semen, bata, dan material konstruksi lain mencatat pertumbuhan penjualan tahunan sebesar 8‑10% sejak program berjalan.
Selain dampak ekonomi, program BSPS juga diharapkan dapat memperkuat rasa memiliki (ownership) warga terhadap hunian mereka, sehingga meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan mengurangi risiko hunian tidak layak. Khofifah menegaskan bahwa keberlanjutan program akan dijaga melalui monitoring rutin, pelatihan keterampilan bagi tenaga kerja lokal, dan sinergi dengan pemerintah kabupaten/kota serta lembaga keuangan mikro.
Ke depan, pemerintah provinsi berencana memperluas jangkauan BSPS ke daerah‑daerah yang belum terlayani secara optimal, serta menyesuaikan skema pembiayaan agar dapat menjangkau keluarga berpendapatan sangat rendah. Dengan langkah tersebut, diharapkan Jawa Timur dapat terus menurunkan angka kemiskinan dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.