Setapak Langkah – 31 Maret 2026 | Jakarta, 31 Maret 2026 – Mantan gelandang Persija Jakarta, Jordi Amat, menyatakan rasa kagumnya terhadap strategi pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, yang kini memimpin skuad biru putih menuju fase akhir FIFA Series 2026. Amat, yang kembali berkunjung ke tanah air sebagai pundit televisi, menyoroti kesamaan prinsip kepelatihan Herdan dengan filosofi permainan Persija yang mengedepankan kombinasi pemain lokal berdaya dan diaspora berkualitas.
“Saya sangat menyukai ide John Herdman dalam membangun chemistry antara pemain diaspora dan lokal. Pendekatan itu mirip dengan apa yang kami lakukan di Persija beberapa musim lalu, ketika klub menyeimbangkan talenta muda Indonesia dengan pemain asing berpengalaman,” ujar Jordi Amat dalam wawancara eksklusif di studio TV nasional. “Kunci keberhasilan keduanya terletak pada kepercayaan timbal balik dan pemahaman taktis yang mendalam.
John Herdman dan Transformasi Timnas Indonesia
Sejak mengambil alih kepelatihan pada Januari 2025, John Herdman berhasil mengubah dinamika timnas. Menurut Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, pelatih asal Inggris tersebut berhasil mengambil hati para pemain, baik yang berbasis di dalam negeri maupun diaspora, serta menumbuhkan rasa kebersamaan yang sebelumnya kurang terasa.
“Chemistry antara pelatih, asisten, dan pemain menjadi prioritas utama. John tidak hanya mengajarkan taktik, tetapi juga membangun ikatan emosional yang kuat,” kata Sumardji. “Hasilnya terlihat pada kemenangan 4-0 melawan Saint Kitts and Nevis di Stadion Utama Gelora Bung Karno, serta penampilan impresif melawan Bulgaria di final FIFA Series 2026.
Persamaan Filosofi antara Timnas Indonesia dan Persija
- Integrasi Pemain Diaspora: Kedua tim menaruh kepercayaan pada pemain keturunan Indonesia yang berkarier di luar negeri, memanfaatkan pengalaman internasional mereka untuk meningkatkan kualitas permainan.
- Pengembangan Pemain Muda: Baik Timnas maupun Persija mengutamakan pembinaan pemain usia 18‑23 tahun melalui program akademi dan kompetisi domestik, memastikan regenerasi berkelanjutan.
- Tak Taktik Fleksibel: Herdman dan mantan pelatih Persija menekankan fleksibilitas formasi, menyesuaikan strategi berdasarkan lawan dan kondisi lapangan.
- Budaya Kemenangan yang Inklusif: Kedua entitas menumbuhkan budaya kemenangan yang melibatkan seluruh staf, pemain, dan suporter, menciptakan atmosfer positif di dalam dan luar lapangan.
Jordi Amat menambahkan, “Saya melihat bagaimana Persija menyiapkan skema permainan yang dapat menyesuaikan diri dengan lawan, sama seperti John yang selalu menyiapkan variasi taktik tergantung pada kebutuhan tim. Kedua pendekatan tersebut menonjolkan kebijaksanaan dalam penggunaan sumber daya manusia.
Program Jangka Panjang dan Visi 2030
John Herdman juga menekankan visi jangka panjang hingga Piala Dunia 2030. Programnya meliputi peningkatan standar kebugaran, pembentukan pusat pelatihan terintegrasi, serta kerjasama dengan klub-klub Asia dan Eropa untuk pertukaran pemain.
“Kami berada pada fase awal, namun momentum yang tercipta setelah FIFA Series 2026 memberikan fondasi kuat untuk meraih target ambisius,” ungkap Herdman dalam konferensi pers pasca final melawan Bulgaria.
Amat menilai, “Jika Timnas Indonesia terus menerapkan prinsip yang sama seperti Persija—menggabungkan bakat lokal dengan pengalaman internasional—maka peluang untuk melaju ke panggung dunia menjadi semakin realistis. Saya mendukung penuh ide-ide John dan berharap mereka dapat menginspirasi generasi berikutnya.
Kesimpulannya, dukungan Jordi Amat terhadap John Herdman bukan sekadar pujian pribadi, melainkan cerminan kesadaran akan pentingnya sinergi antara pemain diaspora dan lokal, serta perlunya filosofi yang konsisten antara tim nasional dan klub-klub besar Indonesia seperti Persija. Dengan landasan tersebut, Timnas Indonesia berpeluang menorehkan prestasi lebih tinggi pada kompetisi internasional mendatang.